
Suara Merdeka – Semarang, 14 Juli 1991
Timur Sinar Suprabana
Kemarin Ia Datang Pagi-pagi Sekali
Saya baru hendak beranjak dari ranjang untuk membuka jendela kamar. Dan segera pula mengurangkannya, ketika mendengar mesin mobil yang memasuki pelataran rumah saya. Seperlintasan detik pertanyaan lebih tertuju pada diri sendiri, “siapa?”
Keingintahuan itu pula yang sepertinya menggerakkan badan, tubuh, dan diri untuk beranjak dari ranjang. Saya melangkah ke pintu kamar yang masih tertutup. Memegang handle daun pintu dengan jari – jemari lapak tangan kanan, menekannya ke arah bawah dalam seperempat uliran, menariknya pelan – pelan hingga antara tepian daun pintu pada sisi kanan dan tepian kuisen pada sisi yang semula dirapati daun pintu tercipta ruang yang cukup memungkinkan untuk dapat saya lalui. Saya lintasi ruang tengah, sembari sekelebaran mengekas jam dinding.
“Belum jam lima,” gumam saya. Di luar tidak lagi terdengar suara mesin mobil. Kebeningan kembali merambah ruang. Tapi tak lama. Segera sesudahnya saya mendengar suara hempasan pintu mobil. Dan sedetik – dua kemudian dari pelataran terdengar suara berkericakan, lantaran ada orang melangkah pada permukaan hamparan kerakal. Suara itu mengerepyak dengan jeda teratur, tanda bahwa orang itu melangkah dengan tidak tergesa-gesa, teratur, atau bahkan mantap. Berbareng dengan hilangnya suara berkerepyak yang khas itu saya sudah berada di ambang bagian dalam dari pintu utama. Segera pula membukanya, setelah lebih dahulu menjebal anak kunci dari tautannya di dinding kuisen pintu, memutar ujungnya pada lubang kuisen serta mengulirnya sampai terdengar suara takliksp.
Pintu terbuka tepat ketika seorang lelaki baru hendak mencapai tepian ubin beranda, tiga meter di depan saya. Dengan selibas sapaan pandang mata, segera pula saya dapat mengenali siapa yang datang pagi – pagi sekali. Agaknya, ia pun segera pula dapat mengenali saya. Senyumnya mengembang, seolah kesegaran dunia pagi hari. Saya menyambut kedatangannya dengan makian akrab, “Bajingan kau, masih hidup juga, heh!”
Dan, masih sebagaimana dulu, awal keausan selalu ditandai dengan rebakan senyum yang memperkembangkan kesegarannya menjadi derai tawa.
Mestinya saya berharap bahwa ia akan mau menginap barang sehari – dua, atau bahkan sampai kapanpun yang ia ingini. Seperti yang saya katakan, hampir setengah memaksa, untuk kali yang kesekian, “Menginaplah di sini barang sehari – dua, atau bahkan sampai kapan pun yang kamu ingini. Toh bahwa memang apa yang kau katakan sendiri, dalam satu minggu ini cukup punya waktu untuk tidak melakukan apa pun. Kecuali bersantai, dan di sini, kupikir kamu bisa total istirahat.”
Senyumnya kembali mentuas. Pandang sepasang bola matanya merambah keseluruhab wajah saya, tetapi segera pula ia menyembunyikan penglihatannya pada deret topeng – topeng di dinding. Kemudian beranjak dari duduknya, melangkah pelan mendekati deret topeng – topeng itu, seolah ingin bisa melihat detail masing – masing topeng. Sekaligus membengkaikan pengucapan saya; sampai akhirnya ia kembali duduk di kursinya sembari berkata ringan, “Kali lain sajalah. Sahabatku.”
“Kau selalu begitu, sejak dulu,” kata saya.
“Kapan mereka pulang?”
“Maksudmu, istri dan anakku?”
Ia mengangguk.
“Mungkin dua atau tiga hari lagi,” kata saya.
“Dan kamu tidak berkeinginan untuk menjemput mereka?”
Saya menggeleng, “Tidak,” kata saya, “Itulah sebabnya mengapa aku ingin kamu tinggal di sini beberapa hari, sekalian berkenalan dengan istri dan anakku.”
Ia kembali beranjak dari kursi yang didudukinya, sembari sekaligus menjembut bungkus rokok kretek – cerutu produk terbaru dari sebuah pabrik rokok yang disebut – sebut sebagai pabrik rokok terbesar di negeri ini. Untuk kali yang kesekian ia membengkaikan pengucapan saya. Dan lebih memilih mengamati sebuah patung kontemporer di sudut ruang. Terus terang, tampilan ketidakpeduliannya itu menjadikan saya merasa disepelekan. Saya baru hendak menyatakan, bahwa sebaiknya ia sedikit mempertimbangkan tawaran saya. Tetapi ia telah lebih dulu berkata, “Bagaimana kalau kita keluar.”
“Kau pengin kita kemana?”
“Kemana sajalah.”
Saya tertawa, beranjak dari kursi, melangkah mendekatinya, dan berdiri di sampingnya sembari berkata, “Tidak biasanya engkau mempertampakkan kegelisahanmu.”
Ia hanya menggumamkan sesuatu yang saya tak benar-benar mendengarnya dengan jelas. Tetapi toh akhirnya saya katakan juga, bahwa saya pikir ia mesti istirahat barang sejam – dua, yang segera pula ditolaknya dengan pengucapan pendek. “Semalam aku sudah cukup beristirahat.”
Saya mengalah, “Baiklah,” kata saya. “Kita keluar, barangkali itu lebih baik bagi kita, ketimbang di sini kamu tidak krasan!”
Ia tertawa tetapi tidak lagi menyatakan sesuatu pun. Saya melangkah ke kamar, berganti pakaian. Ketika itu ia sudah melangkah ke titik lain dari tempatnya mengamati patung pada pojok ruang. Kemudian, ganti mengamati reproduksi lukisan Vincent van Gogh, Potret Dokter Gachet, garapan pelukis lokal.
Ketika saya ke luar dari kamar, dan kembali berada di ruang utama, ia masih asyik mengamati lukisan karya pelukis Belanda yang aslinya, tersimpan di Jepang, sampai kini masih menjadi lukisan termahal di dunia. Reproduksi lukisan itu sendiri saya peroleh bukan berdasar pesanan saya. Tetapi hanya sekadar menolong seorang teman pelukis yang ketika itu datang ke rumah, dengan sudah menenteng Potret Dokter Gachet, dan berceritera bahwa ia butuh uang. Entah mengapa, saya sendiri menyukai lukisan itu, lepas dari persoalan bahwa yang ini kali digarapnya adalah sebuah reproduksi dari karya pelukis hebat sekapasitas Van Gogh.
“Saya lapar,” kata teman saya. “Saya pikir kita makan dulu saja, baru kemudian kemana atau kemana.”
“Boleh,” kata saya.
“Oh ya, kamu tidak ingin ketemu teman – teman lama kita yang lain?”
Ia menggeleng. Selintas memandang ke arah saya dan berkata, “Sebenarnya ingin juga, tapi … sudahlah, kali lain saja.”
Saya tidak berkomentar. Di beranda ia berdiri termangu, memandangi mobilnya seolah mempertimbangkan sesuatu, dan kemudian berkata, “Kita pakai mobilmu saja.”
“Sip!” Kata saya sembari melumpuhkan keinginan untuk bertanya, mengapa bahwa ia tiba-tiba ingin meninggalkan mobilnya dan lebih memilih keluar dengan mengendarai mobil saya.
“Mengapa ia tidak mau menginap?” Tanya istri saya ketika saya berceritera tentang kedatangan teman lama saya itu. Saya tidak segera menjawab keingintahuanya. Bukan karena apa, tetapi sesungguhnya saya pun tidak benar-benar bisa tahu mengapa bahwa ia menolak untuk menginap. Tetapi, akhirnya toh saya berkata juga, “Entahlah, sepertinya memang ada soal-soal khusus yang ia sedang hadapi, dan tak seharusnya diketahui orang lain.”
“Juga bahwa sebaiknya tak kau ketahui?”
Saya mengangguk, “Betapa pun saya adalah orang lain baginya,” kata saya.
Istri saya tersenyum, “Tetapi kau bilang, bahwa dia adalah teman lamamu, bahkan sahabatmu yang paling karib,” kata istri saya.
“Ya, benar. Lalu mengapa?”
“Mengapa harus ada yang ia merasa mesti sembunyikan dari kamu?”
Saya tertawa, “Tidak selalu, bukan, bahwa tiap persoalan mesti senantiasa dibagi, bahkan terhadap seorang sahabat. Barangkali karena perkaranya memang terlalu mempribadi,” kata saya.
“JANGAN – JANGAN RUMAH TANGGA MEREKA SEDANG KISRUH,” KATA ISTRI SAYA MENEBAK – NEBAK. “ENTAHLAH,” KATA SAYA. “TAPI AKU PIKIR ADA SOAL LAIN…
saya, “Dan lagi, kau tahu, sudah lebih tujuh tahun kami tidak saling berjumpa, tidak pula saling dengar kabar.”
Istri saya mengangguk, justru ketika itu saya berkata, “Yang aku tidak mengerti adalah mengapa bahwa ia tidak mengajak serta istri dan kedua anaknya.”
“Lalu, kemana mereka?”
“Katanya, berada di rumah mertuanya.”
Apakah itu aneh? Bukankah ketika ia kemari, aku juga sedang berada di rumah orang tuamu?”
“Itulah!”
Istri saya memandang tepat ke arah sepasang mata saya, minta semacam kejelasan. Dan saya memang kemudian berkata menerangkan, “Itu seperti suatu kebetulan. Terus terang, entah mengapa, saya kurang percaya kalau ketika ia berada di sini, istri dan anaknya sedang berada di rumah mertuanya. Seperti halnya kamu, ketika itu berada di rumah orang tuamu. Dan lagi, belum pernah aku lihat ia tampak demikian gelisah.”
Istri saya tak mengucapkan sesuatu pun, saya kembali berkata, “Sepertinya ia memberi jawaban asal – asalan saja soal istri dan anak – anaknya.”
Jangan – jangan rumah tangga mereka sedang kisruh,” kata istri saya menebak – nebak.
“Entahlah,” kata saya. “Tapi aku pikir ada soal lain yang lebih serius dari itu.”
Istri saya bangkit dari duduknya, meelongok ke arah luar, memanggil anak kami dengan sekali tarikan penyebutam nama, hampir setengah berteriak, “Galih…!”
Dari pelataran terdengar terikan lain, “Sebentar, maaa…!” Saya berkata, pelan. “Tidak seharusnya engkau memanggil anak kita dengan berteriak seperti itu.”
Istri saya hanya tersenyum, dan ia memang tidak lagi memanggil anak lelaki kami dengan berteriak. Saya tergelak, soalnya ia panggul Galih dengan satu siulan panjang, dan kembali saya dengar teriakan khas dari pelataran, “Sebentar, Maaa…!”
“Kau! Apa – apaan si, Ma!”
Kini gantian ia yang tertawa sembari membungkuk dan mengusap rambut di kepala saya, lalu beranjak melangkah menuju keluar, ke pelataran mendapati anak kami yang bermain. Saya lihat di ambang pintu utama langkahnya tertegun, dan sebelum berlalu ia menoleh ke arah saya, “Agaknya kita kembali kedatangan tamu, Pa.”
Saya bangkit, melangkah ke arah di mana istri saya berdiri, dan memang, di luar pagar tampak sebuah mobil berhenti, segera sesudahnya muncul dua lelaki. Kaseduanya berjalan berdampingan dengan langkah mantab, melintasi halaman bertebar kera kal, dan suara yang khas itu kembali saya dengar. Suara hamparan kerakal yang berkerepyakan tiap kali ada orang yang menapakkan kaki – kakinya yang berepatu di permukaannya.
Galih menoleh ke arah kedua lelaki yang datang itu, lalu beranjak meninggalkan mainannya, dan menggelendot ibunya. Hampir serempak kedua lelaki yang datang itu berucap, “Selamat sore,” yang segera pula kami sambut dengan senyum dan anggukan sembari juga berucap, “Selamat sore.”
“Maaf, kami mengganggu,” kata salah seorang di antara mereka. Saya tersenyum dan mempersilakan keduanya masuk. Istri saya mendahului masuk ke ruang tengah, duduk nonton televisi. Sekali lagi saya mempersilakan mereka, ini kali untuk duduk.
Kami berdua dari kepolisian, Pak,” kata salah seorang di antara keduanya, dan kemudian menanyakan satu nama yang segera saya jawab, “Ya, saya sendiri, Pak.”
“Kami memerlukan beberapa keterangan dari Bapak tentang …” dan ia menunjukkan selembar potret sembari berkata, “Apakah Bapak mengenalnya?” Saya menjeba potret itu, mengamatinya, dan darah saya menginsip, seolah berbatasan dengan keterkejutan dari jenis yang tak terbayangkan sebelumnya.
“Ya,” kata saya pelan. “Saya mengenalnya. Dia sahabat baik saya, Pak. Emng … boleh saya tahu … emng … ada apa dengannya?”
“Begini, Pak,” kata salah seorang dari keduanya, “Kami memerlukan beberapa keterangan dari Bapak.”
Saya memandangi keduanya bergantian sembari meletakkan potret itu di permukaan meja, di hadapan saya, dan seketika itu pula saya bertanya, “Apakah … apakah teman saya ini sedang tersangkut suatu perkara, Pak?”
“Ya, sebutlah demikian.”
Saya mengangguk – angguk.
“Ia terlibat dalam tindak pidana korupsi, Pak,” katanya.
Saya hanya bisa mengangguk – angguk.
Kemudian pilih berganti mereka menanyakan beberapa hal kepada saya, dan sesekali mencatat jawaban – jawaban saya.
“Jadi kali terakhir Bapak bertemu kemarin?”
Saya mengangguk.
“Memang,” kata saya. “Kemarin ia datang pagi – pagi sekali.”
Kata saya menegaskan. “Saya memang menawarkan kepadanya untuk menginap barang sehari – dua, tapi dia menolak, dan kemarin malam pamit, seperti yang sudah katakan tadi, katanya ia tidak ingin merepotkan saya.”
“Bapak juga tidak bisa memperkirakan ke mana kemungkinan ia pergi?”
Saya tertawa, hambar, dan menggeleng. Kedua lelaki itu tersenyum sembari berkata, “Terima kasih untuk semua keterangan Bapak,” lalu menyatakan bahwa mereka hendak minta diri.
Saya mengantar keduanya sampai di luar pagar, menempuh pelataran yang berhampar kerakal. “Oh ya, Pak, bagaimana Bapak bisa tahu bahwa ada kemungkinan ia kemari?”
“Pihak kami menemukan beberapa surat yang ia tulis untuk Bapak, dan entah mengapa tidak jadi dikirimkannya. Yah, dari situ kami tahu alamat Bapak, dan bahwa Bapak memang sahabatnya.”
Saya mengangguk – angguk.
Pelan – pelan saya lintasi pelataran. Sembari melangkah saya mendesah. Beberapa kali mendesah.
Sayup – sayup saya mendengar lantunan azan magrib. Di beranda istri saya dan anak kami berdiri berdampingan. Saya mempercepat langkah. Tiba – tiba saya lihat keduanya menampak demikian indah. Sangat indah!
