
Semarang – Berita Yudha, 26 April 1983
PEMUDA DAN MAHASISWA
Anggoro, Dari Tukang Batu Ke Seniman
Nasib seorang memang tak dapat diduga ataupun diramal. Karena kehidupan itu sendiri merupakan bahtera lepas, melaju di tengah samudra. Tinggal dapatkah seseorang itu jadi kemudi yang baik, yang mampu untuk mengendalikan bahteranya? Dapatkah dia mempertahankan bahteranya dari serang badai? Nah, begitulah apa yang dialami oleh Anggoro Suprapto, sebagai seniman tulis berprestasi cukup baik di Kota Semarang. Bahkan karya-karyanya sempat dinikmati masyarakat seantero nusantara.
Dia dilahirkan di Kota kecil Juana, Pati tgl. 17 Agustus 1952.
Pendidikan sebenarnya STM Perkapalan, tetapi pernah menjadi guru SD di Mangkang, Kecamatan Tugu Kodya Semarang. Dan terakhir lulus Akademi Publisistik Dipanegara Semarang. Selama itu pula, dia mengalami perjalan yang cukup panjang. Perjuangan demi perjuangan, pahit dan manis meronai kerindupannya. Hingga meresap dibenaknya, serta menambah pengertiannya bahwa untuk menuju ke menara gading memang perlu banyak pengorbanan, entah itu tenaga, pikiran maupun perasaan.
Setiap orang tua selalu punya cita-cita luhur, ingin anaknya sukses dalam segala bidang, study sampai masa depan nan gemilang.
Entah mereka dari kasta melarat maupun kasta borjuis. Kemudian mereka juga akan mengecam setiap tindakan terkutuk macam apapun, yang dilakukan anak lain ataupun anaknya sendiri. Meski bandar yang dilabuhi bahtera yang disitir anak mereka tak dapat dibayangkan sebelumnya. Begitu halnya dengan Anggoro Suprapto, yang terlahir dari keluarga miskin. Emaknya membeayai sekolahnya hanya cukup sampai STM, selebihnya dia diharuskan menentukan nasibnya sendiri. Kenapa tidak, uang hasil wiraswasta emaknya, membuat onde onde, menjualnya, membeli bahannya lagi, untuk makan, semuanya itu cuma pas pasan. Kalaupun dapat membuat anaknya lulus sekolah menengah saja sudah beribu untung. Inilah yang membuka jalan pikirannya untuk berbuat sesuatu, sudah barang tentu sesuatu yang jadi harapan emaknya. Meski nasibnya waktu itu tidak semujur harapannya. Mencari emas waktu itu dan waktu sekarang sama saja, seperti mencari sebutir emas di dalam danau yang dalam. Namun kesulitan itu dihadapinya dengan kemauan membaca. Dia terus berjuang mengemudikan bahteranya mencari dermaga, dan menambatkannya disana. Dan awal labuhnya, dia terjun sebagai tukang batu,… cuma bukan sembarang kuli batu, yang didapatnya kuli batu terhormat, sekaligus sebagai pengalaman berharga dalam perjalanan hidupnya. Dia bekerja sebagai tenaga kontrak di Timur Tengah, Iran. Sampai hampir 4 tahun lebih.
Tapi dia merupakan orang yang kreatif, punya daya pikir cemerlang. Uang hasil kerjanya selama itu ditabungnya. Sampai dia benar-benar merasa rindu dengan tanah air tercinta, Indonesia. Rindu akan keluarganya, buku harian sudah penuh dengan coretan tangannya. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke tanah air, apapun yang akan dihadapinya nanti, bentangan itu akan dijalannya.
Semula, setibanya di kotanya tercinta Semarang tak tahu apa yang harus dikerjakannya. Jelasnya alamat pengangguran! Cuma masih untung tidak jadi gelandangan. Padahal waktu itu dia sudah punya istri dan seorang anak. Pokoknya yang ada dibenaknya waktu itu hanya ada kemauan untuk berusaha, prinsipnya ada kemauan, di sana pasti ada jalan. Hingga sekarang prinsipnya itu masih melekat erat di kepala dan hatinya. Akibatnya membuat dia tak pernah mengeluh dalam menghadapi setiap hantaman problema, selalu dapat diatasinya dengan tenang, mudah dan berhasil. Maka dari itu dia paling disukai dalam kelompok KPS, karena kemampuannya, ketegasan dan langkahnya yang begitu pasti.
Masa suramnya tak berjalan lama, suatu ketika dia bertemu dan berkenalan dengan Timur Sinar Suprabana, yang sekarang jadi penyair cukup harum di kota Semarang ini. Dari Timur juga dia diperkenalkan kepada ayahnya yang bernama B. Sutiman. Walau sebelumnya dia sudah mencoba jadi penulis, namun belum memenuhi harapannya. Inilah awal kariernya, dan rupanya ini jadi dermaga terakhir dari perjalanan bahteranya. Merangkaklah dia perlahan dari anak tangga pertama. Sejak saat itu dia mulai banyak membaca buku, dari mulai cerita petualangan Karl May, cerita silat karya Kho Ping Hoo, dan kisah apa saja, habis dilalapnya. Bahkan dia benar-benar sudah jadi kutu buku, demi mengejar reputasinya. Untung saat-saat seperti itu istrinya tak banyak menuntut, terlalu setia dan terlalu sabar. Sampai sekarang sikap seperti itu terus terbawa, pengertiannya tentang hidup membuat matang jiwanya. Apapun yang diomongkan orang atas diri suaminya, dianggap sebagai angin lalu, hakekatnya kepercayaan sudah medarah daging.
Padahal pula perjalanan sengsara itu cukup panjang. Dari mencoba membuat komik, sampai akhirnya mencoba jadi pengarang yang baik, minimal karangannya laku di jual.
Naskah cerpennya mulai meletik di th. 1979. Mulai banyak orang yang mengenal tulisannya. Dari mulai artikel, puisi, cergam, Cerpen dan cerbungnya. Namun hasil itu belum bisa merupakan tonggak untuk kehidupan dirinya dan keluarganya. Untunglah waktu itu salah satu terbitan di Semarang mau menampung dirinya sementara. Meski dengan hasil minim. Lantas dari Mingguan Dharma, dia loncat ke Mingguan Kartika.
Dari kedua mass media ini juga kariernya terus meningkat, pengalaman demi pengalaman membentuk dirinya semakin dominan. Sampai akhirnya dia berpikir dan memutuskan diri untuk jadi seorang wartawan. Kemudian masuk ke APPD, beayanya? Hasil gojih dan tulisan sebagai taruhan. Nyatanya dia berhsil dengan gemilang, dapat meraih kesarjanaannya. Semenatara buku buku yang dipesan dan dicetak oleh CV. Aneka Semarang, tambah laris, terus terusana cetak ulang. Dari Kumpulan Puisi Album Biru, merangkai janur, Kumpulan Cerpen Wagiyem dan akhir akhir ini dia sedang mempersiapkan naskah novel serius, tentang kisah perjalanan anak manusia, dari awal hingga dia jadi orang sukses. Judulnya? “Nanti saja ah, kalau sudah rampung dicetak. Pokoknya jaminan mutu”, ucapnya.
Disegi lain profesinya makin tambah menanjak, dan kini dia sudah jadi wartawan “Suara Merdeka”. (M.I.K.)
Dokumentasi Karya dan Pengetahuan Maestro
Artikel ini merupakan bagian dari dokumentasi digital perjalanan, kegiatan, karya, dan jejak kebudayaan Timur Sinar Suprabana.
