Arsip Digital · Olahan Pindai

Esai: Daur Ulang [Suara Merdeka]

Semarang – Suara Merdeka, 10 November 1991 DENTING Daur Ulang RAJIN-rajinlah membaca dan mendokumentasikan berita-berita pada rubrik berita kota, teristimewa untuk berita-berita kriminal. Bukan tidak mustahil jika pada saatnya nanti dokumentasi Anda akan sangat bermanfaat. Berita pencurian arca Kwan-Im dari sebuah kelenteng kecil misalnya, terbukti bisa didaur ulang (!) menjadi bagian dari suatu ceritera seri…

Jenis Arsip Olahan Pindai
Akses Dokumen Digital
Format PDF / Hasil Digitalisasi
← Kembali ke Olahan Pindai
Pratinjau Arsip Representasi visual dokumen hasil digitalisasi

Semarang – Suara Merdeka, 10 November 1991 DENTING Daur Ulang RAJIN-rajinlah membaca dan mendokumentasikan berita-berita pada rubrik berita kota, teristimewa untuk berita-berita kriminal. Bukan tidak mustahil jika pada saatnya nanti dokumentasi Anda akan sangat bermanfaat. Berita pencurian arca Kwan-Im dari sebuah kelenteng kecil misalnya, terbukti bisa didaur ulang (!) menjadi bagian dari suatu ceritera seri…

Semarang – Suara Merdeka, 10 November 1991

DENTING

Daur Ulang

RAJIN-rajinlah membaca dan mendokumentasikan berita-berita pada rubrik berita kota, teristimewa untuk berita-berita kriminal. Bukan tidak mustahil jika pada saatnya nanti dokumentasi Anda akan sangat bermanfaat.

Berita pencurian arca Kwan-Im dari sebuah kelenteng kecil misalnya, terbukti bisa didaur ulang (!) menjadi bagian dari suatu ceritera seri bernuansa kriminal, atau ceritera seri kriminal. Setidaknya hal yang demikian telah terbukti mampu dikerjakan Djawahir Muhammad, yang ceritera seri kriminal garapannya, sebagai suatu produk daur ulang, sedang dimuat di media massa ini.

Mendaur produk berita menjadi produk ceritera, yang saya keberatan jika mesti menandainya sebagai karya kesusasteraan, sesungguhnya sangat bukan merupakan pekerjaan yang mengandung daya jelajah kreatif, dan lebih hanya menuntut keterampilan pelakunya dalam kapasitas sebagai perajin, atau semacam prakarya. Memotong, melipat, menganyam, menjalin, mengelem, mewarnai dan seterusnya.

Daya jelajah kreatif hanya mungkin disadari keberadaannya, untuk kemudian dikelola dan didistribusikan melalui kerja berkesusasteraan, oleh kreator. Sedangkan keterampilan sebagai perajin, bagi saya, bukan milik kreator. Keterampilan yang demikian sesungguhnya benarnyalah lebih merupakan “talenta” khas perajin. Atau, merupakan ciri dominan para tukang.

Djawahir Muhammad, melalui tampilan produk ceritera seri kriminalnya, diakui ataupun ditolak terkesan nyata menempatkan keberadaannya sebagai perajin-tukang. Lebih halusnya, kalau hendak tidak terlalu memojokkan: Djawahir Muhammad mengoptimalkan kreativitas kekreatorannya pada sektor merajin-menukang.

Hasilnya memang lantas menjadi jelas. Bagi saya, produk-produk daur ulang selalu pada akhirnya menjadi produk yang dangkal dengan kemasan artifisial, dari tinjauan sisi artistik ataupun dan estetik. Soalnya sederhana saja, bukankah bahwa produk kerajinan tangan-prakarya tidak pernah bersentuhan dengan proses pengendapan-pendalaman yang lajim melingkupi proses suatu pelahiran karya susastera?

Berita Sebagai Produk jurnalistik memerlukan hanya kebenaran. Lain tidak. Ceritera seri sebagai bagian dari karya susastera justru membutuhkan tidak hanya sekadar cuma kebenaran dalam pengertian konkret konvensional. Pasti, mengenai dan tentangnya secara struktural diketahui dimengerti difahami sepenuhnya oleh Djawahir Muhammad.

Mengapa bahwa sesudahnya terdapat penyimpangan wujud—untuk tidak menegaskannya sebagai cacad fatal! Yang menjadi bukti dari adanya pengingkaran terhadap apa yang diketahui dimengerti ataupun difahami itu? Apakah bahwa Djawahir Muhammad sedang berujicoba melalui pola kerja dan model dari produk yang ditentukan oleh pola kerja tersebut? Ini terniscayakan menarik diungkap melalui peradilan—barangkali dengan “P” kapital—yang terencana hendak diselenggarakan untuk memperterang duduknya perkara.

Dalam kapasitasnya sebagai kreator—penulis—penyair—sutradara teater—penyelenggara berbagai jenis kegiatan berkesenian—Djawahir Muhammad termasuk tokoh senior dengan berbagai atribut idealistiknya. Dan, karya-karya Djawahir Muhammad terdahulu sebelum produk prakaryanya yang ini kali, sungguh merupakan karya-karya kesusasteraan populer yang bernas. Cerpen-cerpennya, antara lain yang layak dikenang. “Engkrak” dan “Pararakan” menjelaskan kelas Djawahir Muhammad. Tapi, itu dulu. Sangat dulu.

Totalitas penterlibatan berperasaan-berpikiran dengan orientasi yang khas bersimpati pada masyarakat kelas bawah, sepanjang dasawarsa 1980-an pernah sangat mengagumkan. Bahkan, sebermula dari respek khusus terhadap cerpen-cerpennya saya pernah menyebut Djawahir Muhammad sebagai Satya Graha Hoerip-nya Semarang.

Sulit bagi saya untuk memahami mengapa realisme dalam ceritera seri Djawahir Muhammad bukan realisme fiksitifistik, melainkan realisme hampir dalam konotasi faktual keseharian, demikian juga halnya dengan logika yang dilingkupkannya pada tiap babagan perkisahan. Tidak ada imajinasi, tidak ada fantasi. Tidak ada permenungan.

Bahwa Hakekat Ceritera yang demikian buruk ternyata terkategori sebagai produk pemenang dari Lomba Penulisan Ceritera Fiksi yang diselenggarakan Suara Merdeka, melalui kolom Denting ini saya tak terlalu berminat untuk menaruh pengomentaran, karena soalnya, pelibasan terhadap karya yang saya tempuh ini, dan boleh jadi lantas sesudahnya bisa teragenda dalam peradilan kelak, tidak akan merubah status pemenangan oleh Dewan Yuri Yth atas karya bersangkutan.

Kalau bahwa “kita” merasa perlu untuk membuka pikiran-dialog melalui suatu forum peradilan, atau apapun orang hendak mempertistilahkannya, semoga saja kebersiputaran problematika tidak sekadar bersitumpu pada perkara yang bersifat teknis-artistik, melainkan lebih ke estetik-etik. Timur Suprabana

02 · Dokumen Digital

Baca hasil pindai.

Gunakan pembaca dokumen untuk menelusuri halaman hasil digitalisasi. Dokumen dapat diperbesar, diperkecil, dan dibaca langsung melalui halaman ini.

Semarang – Suara Merdeka, 10 November 1991

DENTING

Daur Ulang

RAJIN-rajinlah membaca dan mendokumentasikan berita-berita pada rubrik berita kota, teristimewa untuk berita-berita kriminal. Bukan tidak mustahil jika pada saatnya nanti dokumentasi Anda akan sangat bermanfaat.

Berita pencurian arca Kwan-Im dari sebuah kelenteng kecil misalnya, terbukti bisa didaur ulang (!) menjadi bagian dari suatu ceritera seri bernuansa kriminal, atau ceritera seri kriminal. Setidaknya hal yang demikian telah terbukti mampu dikerjakan Djawahir Muhammad, yang ceritera seri kriminal garapannya, sebagai suatu produk daur ulang, sedang dimuat di media massa ini.

Mendaur produk berita menjadi produk ceritera, yang saya keberatan jika mesti menandainya sebagai karya kesusasteraan, sesungguhnya sangat bukan merupakan pekerjaan yang mengandung daya jelajah kreatif, dan lebih hanya menuntut keterampilan pelakunya dalam kapasitas sebagai perajin, atau semacam prakarya. Memotong, melipat, menganyam, menjalin, mengelem, mewarnai dan seterusnya.

Daya jelajah kreatif hanya mungkin disadari keberadaannya, untuk kemudian dikelola dan didistribusikan melalui kerja berkesusasteraan, oleh kreator. Sedangkan keterampilan sebagai perajin, bagi saya, bukan milik kreator. Keterampilan yang demikian sesungguhnya benarnyalah lebih merupakan “talenta” khas perajin. Atau, merupakan ciri dominan para tukang.

Djawahir Muhammad, melalui tampilan produk ceritera seri kriminalnya, diakui ataupun ditolak terkesan nyata menempatkan keberadaannya sebagai perajin-tukang. Lebih halusnya, kalau hendak tidak terlalu memojokkan: Djawahir Muhammad mengoptimalkan kreativitas kekreatorannya pada sektor merajin-menukang.

Hasilnya memang lantas menjadi jelas. Bagi saya, produk-produk daur ulang selalu pada akhirnya menjadi produk yang dangkal dengan kemasan artifisial, dari tinjauan sisi artistik ataupun dan estetik. Soalnya sederhana saja, bukankah bahwa produk kerajinan tangan-prakarya tidak pernah bersentuhan dengan proses pengendapan-pendalaman yang lajim melingkupi proses suatu pelahiran karya susastera?

Berita Sebagai Produk jurnalistik memerlukan hanya kebenaran. Lain tidak. Ceritera seri sebagai bagian dari karya susastera justru membutuhkan tidak hanya sekadar cuma kebenaran dalam pengertian konkret konvensional. Pasti, mengenai dan tentangnya secara struktural diketahui dimengerti difahami sepenuhnya oleh Djawahir Muhammad.

Mengapa bahwa sesudahnya terdapat penyimpangan wujud—untuk tidak menegaskannya sebagai cacad fatal! Yang menjadi bukti dari adanya pengingkaran terhadap apa yang diketahui dimengerti ataupun difahami itu? Apakah bahwa Djawahir Muhammad sedang berujicoba melalui pola kerja dan model dari produk yang ditentukan oleh pola kerja tersebut? Ini terniscayakan menarik diungkap melalui peradilan—barangkali dengan “P” kapital—yang terencana hendak diselenggarakan untuk memperterang duduknya perkara.

Dalam kapasitasnya sebagai kreator—penulis—penyair—sutradara teater—penyelenggara berbagai jenis kegiatan berkesenian—Djawahir Muhammad termasuk tokoh senior dengan berbagai atribut idealistiknya. Dan, karya-karya Djawahir Muhammad terdahulu sebelum produk prakaryanya yang ini kali, sungguh merupakan karya-karya kesusasteraan populer yang bernas. Cerpen-cerpennya, antara lain yang layak dikenang. “Engkrak” dan “Pararakan” menjelaskan kelas Djawahir Muhammad. Tapi, itu dulu. Sangat dulu.

Totalitas penterlibatan berperasaan-berpikiran dengan orientasi yang khas bersimpati pada masyarakat kelas bawah, sepanjang dasawarsa 1980-an pernah sangat mengagumkan. Bahkan, sebermula dari respek khusus terhadap cerpen-cerpennya saya pernah menyebut Djawahir Muhammad sebagai Satya Graha Hoerip-nya Semarang.

Sulit bagi saya untuk memahami mengapa realisme dalam ceritera seri Djawahir Muhammad bukan realisme fiksitifistik, melainkan realisme hampir dalam konotasi faktual keseharian, demikian juga halnya dengan logika yang dilingkupkannya pada tiap babagan perkisahan. Tidak ada imajinasi, tidak ada fantasi. Tidak ada permenungan.

Bahwa Hakekat Ceritera yang demikian buruk ternyata terkategori sebagai produk pemenang dari Lomba Penulisan Ceritera Fiksi yang diselenggarakan Suara Merdeka, melalui kolom Denting ini saya tak terlalu berminat untuk menaruh pengomentaran, karena soalnya, pelibasan terhadap karya yang saya tempuh ini, dan boleh jadi lantas sesudahnya bisa teragenda dalam peradilan kelak, tidak akan merubah status pemenangan oleh Dewan Yuri Yth atas karya bersangkutan.

Kalau bahwa “kita” merasa perlu untuk membuka pikiran-dialog melalui suatu forum peradilan, atau apapun orang hendak mempertistilahkannya, semoga saja kebersiputaran problematika tidak sekadar bersitumpu pada perkara yang bersifat teknis-artistik, melainkan lebih ke estetik-etik. Timur Suprabana

Arsip Digital Timur Sinar Suprabana

Telusuri hasil digitalisasi lainnya.

Lihat Olahan Pindai →
×

Semarang – Suara Merdeka, 10 November 1991 DENTING Daur Ulang RAJIN-rajinlah membaca dan mendokumentasikan berita-berita pada rubrik berita kota, teristimewa untuk berita-berita kriminal. Bukan tidak mustahil jika pada saatnya nanti dokumentasi Anda akan sangat bermanfaat. Berita pencurian arca Kwan-Im dari sebuah kelenteng kecil misalnya, terbukti bisa didaur ulang (!) menjadi bagian dari suatu ceritera seri…