Arsip Digital · Olahan Pindai

Puisi: Stambul Pecah Perang [Wawasan]

Harian Wawasan – Semarang, 24 Januari 1989 Timur Sinar Suprabana Stambul Pecah Perang Benar memang telah datangkah ia : pewartaan tentang saat-saat penghabisan bagi usia nafas dan gerak kehidupan yang dimakinkiankan tersia Telah menampak nyata tandatandanya langit mewarnawarni pelangi tetapi tidak oleh bias pesona cahya melainkan kerna kobar hasrat menolak tertandingi Kita menggigil dan sekaligus…

Jenis Arsip Olahan Pindai
Akses Dokumen Digital
Format PDF / Hasil Digitalisasi
← Kembali ke Olahan Pindai
Pratinjau Arsip Representasi visual dokumen hasil digitalisasi

Harian Wawasan – Semarang, 24 Januari 1989 Timur Sinar Suprabana Stambul Pecah Perang Benar memang telah datangkah ia : pewartaan tentang saat-saat penghabisan bagi usia nafas dan gerak kehidupan yang dimakinkiankan tersia Telah menampak nyata tandatandanya langit mewarnawarni pelangi tetapi tidak oleh bias pesona cahya melainkan kerna kobar hasrat menolak tertandingi Kita menggigil dan sekaligus…

Harian Wawasan – Semarang, 24 Januari 1989

Timur Sinar Suprabana

Stambul Pecah Perang

Benar memang telah datangkah ia

: pewartaan tentang saat-saat penghabisan

bagi usia nafas dan gerak kehidupan

yang dimakinkiankan tersia

Telah menampak nyata tandatandanya

langit mewarnawarni pelangi

tetapi tidak oleh bias pesona cahya

melainkan kerna kobar hasrat menolak tertandingi

Kita menggigil dan sekaligus takjub

setiap desing menggentarkan tak cuma satu nyawa

selalu yang tergertak puluhpuluh juta jiwa

sampai lumpuh dan boyak dalam sekali raub

Tanah, air, dan udara memuai di manamana

: para lelaki tua, anak-anak, dan wanita luluhlantak

lalu mendebu begitu saja atau mati sia tergeletak

mengekalkan seluruhluruh segala yang memang fana

Tumpah meruahruah semuamua simpati

fakta bahwa Kita adalah sesama manusia tak lagi bermakna

musna pula pandang mata jelita dan pelukcium kirana

ketika langkah menuju bagai selalu ke titik mati

Berapa banyak dunia memiliki negeri pecundang

: pada sangkamu apakah Tuan adalah Sang Penentu

sampaipun anak-anak di jalanan melawan tank dengan batu

dan Tuan perintahkan babat habis tanpa sesal atau bimbing

Di tiap pori entah berapa dunia ketiga

: tanah air bisa tiba-tiba meriuh dalam genggam

tanpa lagi ada rasa berpupunya yang termungkinkan berdentam

telah Tuan bikin banyak negeri bagai jadi tanpa harga

Pecah perang di banyak titik pada peta

: pekabungan semesta tak berarti apa-apa

kecuali sekadar merogi nestapa

Tuan menaburnya tanpa berkata-kata

23 januari 1993 indonesia

02 · Dokumen Digital

Baca hasil pindai.

Gunakan pembaca dokumen untuk menelusuri halaman hasil digitalisasi. Dokumen dapat diperbesar, diperkecil, dan dibaca langsung melalui halaman ini.

Harian Wawasan – Semarang, 24 Januari 1989

Timur Sinar Suprabana

Stambul Pecah Perang

Benar memang telah datangkah ia

: pewartaan tentang saat-saat penghabisan

bagi usia nafas dan gerak kehidupan

yang dimakinkiankan tersia

Telah menampak nyata tandatandanya

langit mewarnawarni pelangi

tetapi tidak oleh bias pesona cahya

melainkan kerna kobar hasrat menolak tertandingi

Kita menggigil dan sekaligus takjub

setiap desing menggentarkan tak cuma satu nyawa

selalu yang tergertak puluhpuluh juta jiwa

sampai lumpuh dan boyak dalam sekali raub

Tanah, air, dan udara memuai di manamana

: para lelaki tua, anak-anak, dan wanita luluhlantak

lalu mendebu begitu saja atau mati sia tergeletak

mengekalkan seluruhluruh segala yang memang fana

Tumpah meruahruah semuamua simpati

fakta bahwa Kita adalah sesama manusia tak lagi bermakna

musna pula pandang mata jelita dan pelukcium kirana

ketika langkah menuju bagai selalu ke titik mati

Berapa banyak dunia memiliki negeri pecundang

: pada sangkamu apakah Tuan adalah Sang Penentu

sampaipun anak-anak di jalanan melawan tank dengan batu

dan Tuan perintahkan babat habis tanpa sesal atau bimbing

Di tiap pori entah berapa dunia ketiga

: tanah air bisa tiba-tiba meriuh dalam genggam

tanpa lagi ada rasa berpupunya yang termungkinkan berdentam

telah Tuan bikin banyak negeri bagai jadi tanpa harga

Pecah perang di banyak titik pada peta

: pekabungan semesta tak berarti apa-apa

kecuali sekadar merogi nestapa

Tuan menaburnya tanpa berkata-kata

23 januari 1993 indonesia

Arsip Digital Timur Sinar Suprabana

Telusuri hasil digitalisasi lainnya.

Lihat Olahan Pindai →
×

Harian Wawasan – Semarang, 24 Januari 1989 Timur Sinar Suprabana Stambul Pecah Perang Benar memang telah datangkah ia : pewartaan tentang saat-saat penghabisan bagi usia nafas dan gerak kehidupan yang dimakinkiankan tersia Telah menampak nyata tandatandanya langit mewarnawarni pelangi tetapi tidak oleh bias pesona cahya melainkan kerna kobar hasrat menolak tertandingi Kita menggigil dan sekaligus…