Arsip Digital · Olahan Pindai

Cerpen: Pengantin Kardus [Wawasan]

Harian Wawasan – Semarang, 5 Mei 1991 Timur Sinar Suprabana Pengantin Kardus SAYA harus datang itu. Harus. Tidak bisa tidak, Saya harus datang, itu. yang kemudian ia nyatakan dalam kegembiraan yang berkesan pongah ketika untuk kali pertama, melalui seorang sahabat, ia mendengar kabar bahwa pada tanggal empat Juli, saat saya genap berusia dua puluh delapan…

Jenis Arsip Olahan Pindai
Akses Dokumen Digital
Format PDF / Hasil Digitalisasi
← Kembali ke Olahan Pindai
Pratinjau Arsip Representasi visual dokumen hasil digitalisasi

Harian Wawasan – Semarang, 5 Mei 1991 Timur Sinar Suprabana Pengantin Kardus SAYA harus datang itu. Harus. Tidak bisa tidak, Saya harus datang, itu. yang kemudian ia nyatakan dalam kegembiraan yang berkesan pongah ketika untuk kali pertama, melalui seorang sahabat, ia mendengar kabar bahwa pada tanggal empat Juli, saat saya genap berusia dua puluh delapan…

Harian Wawasan – Semarang, 5 Mei 1991

Timur Sinar Suprabana

Pengantin Kardus

SAYA harus datang itu. Harus. Tidak bisa tidak, Saya harus datang, itu.

yang kemudian ia nyatakan dalam kegembiraan yang berkesan pongah ketika untuk kali pertama, melalui seorang sahabat, ia mendengar kabar bahwa pada tanggal empat Juli, saat saya genap berusia dua puluh delapan tahun lebih dua bulan, saya akan menikah.

Terus terang, saya merasa berhadap-hadap dengan sisa keharuan lantaran kegembiraannya. Tetapi, tak perlu saya sembunyikan, saya kurang suka dengan kepongahan yang terkandung di dalam kegembiraannya.

Barangkali lantas berkesan aneh bagi Anda, jika kemudian Anda mengerti bahwa pada kenyataannya dia sudah tak lagi ada dan tak lagi hidup di dalam batin, fikir, dan rasa yang melingkupi keberadaan saya, meski ia dahulu adalah sahabat saya. Sahabat terbaik, tetapi tidak sekaligus sahabat sejati. Kini, sejak bulan Oktober tahun lalu, ia bukan apa-apa dan bukan pula siapa-siapa bagi saya. Sesuatu sudah menodakan kami, dan mengembalikan kami sepenuhnya hanya sebagai aku dan dia. Tanpa keterkaitan, kecuali terhadap keteringatan, bahwa dulu kami pernah sangat bersahabat.

Saya sudah sangat hampir melupakan kalau bahwa ia masih ada, sampai sahabat saya yang lain bercerita mengenai reaksinya ketika mendengar kabar itu, dan bagaimana ia kemudian menempatkan dirinya dalam taraf sedemikian aneh. Sampai menitahkan diri bahwa ia harus datang. Padahal, barangkali ini Anda anggap kelewatan, saya sama sekali tidak dilintasi pemikiran untuk juga mengundangnya. Saya memang benar-benar sudah melupakannya.

“Apakah engkau memang benar-benar tidak berpikir untuk juga mengundangnya?” tanya sahabat saya itu. “Tidak,” kata saya. Pelan dan datar. “Soalnya sederhana saja,” kata saya menambahkan, “pernikahan itu sendiri saya ingin benar-benar dihadiri oleh sahabat-sahabat dekat. Engkau mestinya mengerti, bahkan sebenarnya saya ingin pernikahan itu tidak usah diramaikan. Biarlah berlangsung diam-diam.” Dan sahabat saya beberapa kali mengangguk-angguk. “Sekarang ini jaman susah,” kata saya. “Apa-apa mahal. Saya merasa perlu untuk bersikap praktis, agar tak terlalu berat di ongkos.”

Sahabat saya masih mengangguk-angguk beberapa kali sebelum kemudian bertanya. “Tapi, bagaimana dengan fihak keluarga calon istrimu? Maksudku, apakah mereka bisa menerima pola pikir dan keinginanmu?” Pertanyaannya membuat saya mendesah.

“Mula-mula sempat ribut juga. Tapi syukurlah, kata sepakat akhirnya tercapai. Mereka hanya ingin bahwa pernikahan kami tidak berlangsung diam-diam. Meski sangat sederhana tetapi mesti diresepsikan.”

“Tidak usah mengundang banyak orang,” kata calon ibu mertua saya ketika itu. “Cukup keluarga dan kerabat dekat saja.”

Untuk kali yang kesekian sahabat saya mengangguk-angguk. Saya hampir tak bisa menahan gelak ketika ingat sesuatu dan berkata,

“Tetapi, saya sempat kaget juga ketika mendengar kabar keluarga dan kerabat dekat yang diundang. Jumlahnya jauh lebih banyak dari yang saya perkirakan semula. Empat ratus tujuh puluh satu orang!”

“Nha, mana mungkin sebuah resepsi pernikahan yang mengundang orang sejumlah itu, hanya dari fihak keluarga wanita, bisa terapkan sederhana?”

“Terlalu riuh itu!”

“Tentu saja, saya pun segera kembali meringkasnya. Mengundang yang benar-benar keluarga dan kerabat dekat saja. Lebih dari tiga ratus tujuh puluh orang yang tadinya, kini puluh orang.”

Entah, apanya apa bagian yang lucu pada soal ini sehingga sahabat saya tergelak mendengarnya.

Saya ikut tertawa. Saya gembira, malah ia tertawa. Lepas dan sehat. Jarang sekali, entah mengapa saya tertawa sebagaimana saat ini.

“Dari fihakmu, berapa orang yang terdaftar?”

“Empat puluh dari kalangan keluarga. Keluarga Pakde dan Paklik, Bude dan Bulik, dan beberapa orang yang kerabat dekat saja. Dari Surabaya dan Solo. Ditambah dua puluh delapan sahabat sejati saya.”

“Termasuk saya?”

“Tentu saja, termasuk kamu!”

Sahabat saya kembali terbahak. Lagi, saya merasa bergembira mendengar suara tawanya, dan sungguh-sungguh memang sahabat sejati saya.

Sahabat saya ini seorang novelis, cerpenis, dan sesekali menulis puisi. Bahkan, ia juga menulis naskah drama, dan pernah suatu kali mengerjakan kami — yang oleh sebagian orang awam disebut sebagai “seniman” — bahwa sahabat saya ini sebenarnya adalah juga seorang aktor drama. Kebetulan, beberapa kali dalam beberapa lakon main bersama saya. Sebenarnya, ia adalah aktor yang sesungguh-sungguhnya, bahkan sepanjang hari sepanjang hidupnya, dalam kesehariannya. Ia orang hebat, katanya teman yang lain mengenai sahabat saya ini. “Orang hebat yang hanya bersahabat dengan orang-orang yang juga hebat. Hebat di masa kini, dan hebat di kelak kemudian hari.”

Hebat atau tidak hebat saya tidak terlalu mempersoalkannya. Saya cukup memandangnya sebagai salah seorang sahabat sejati saya.

Ia pula yang, menurut rencana, hendak saya serahi menangani dekorasi ruang pernikahan saya.

“Agar ruang pernikahan tidak hampa, dan tetap mengandung aksentuasi teatral,” kata saya ketika itu. Saya tidak berpesan macam-macam, dan hanya berupa ucapan yang akan menggarap setting untuk sebuah pementasan drama paling menakjubkan dalam hidup saya.”

Dan ia mengangguk faham. Matanya berbinar. Sebuah kerja besar, barangkali begitu ia membayangkan, siap ditempuhnya. Saya tahu ia serius.

Soal pernikahan itu sendiri, maksud saya rencana pernikahan, saya tidak benar-benar serius memikirkannya. Saya menjalani dan menghayati hari-hari akhir kejanggalan saya tanpa obsesi apa pun.

Mengalir lurus, tanpa kelokan. Yang sesekali melintas lintas dalam keterfikiran saya justru soal-soal semacam ini. “Sesudah saya menikah, dan itu artinya saya bukan lagi aku sebagaimana aku pada hari-hari dan deret tahun sebelum menikah, apakah saya mampu menjadi suami yang baik bagi istri saya? Apakah saya sanggup benar-benar menghidupi dan menghidupkan kami tanpa mesti kehilangan daya jelajah saya, baik sebagai pribadi atau pun sebagai seniman?”

“Sampai di sini saya terbegu, dan bertanya pada diri sendiri, ‘Selama ini aku ini sesungguhnya menyandang peran saya sebagai apa?’ Dan, terus terang, saya mendadak seperti berurusan dengan pemikiran mengenai yang tak terfikirkan. Berhadap-hadapan dengan suatu jenis ketiadaan batas status. Hmngh, menjadi suami yang baik. Ah, betapakah wujud dan cara menjadi suami yang baik itu?”

“Dijalani saja,” kata sahabat saya menyarankan. “Dijalani dan dihayati,” katanya lagi. Lalu, seperti berpusi ia berucap, “Dari hari ke hari, hingga akhirnya sampai di hari.”

Sayalah yang kini mengangguk-angguk, meski tidak benar-benar mampu sepenuhnya memahami apa yang dimaksudkannya.

“Kamu mesti bersyukur,” katanya serius, “Mendapat istri, ah, maksudku calon istri, sebagaimana yang kamu hendak nikahi. Ia perempuan yang baik. Tidak punya kompleks apa-apa yang aneh dengan kehidupan ini. Langsam. Ia juga tidak digilai sunyi, obsesi yang membarengi perasaan, pikiran, ucapan, ataupun tindakannya, sehingga ia mestinya menjadi wanita sebagaimana seharusnya menjadi wanita.”

Katanya berpanjang-panjang. Saya kembali mengangguk-angguk.

“Dia memang sebaik-baik wanita dari jenis yang istimewa bagimu,” katanya. Dan terus terang, entah mengapa, saya suka mendengar pujiannya. Soalnya, meski hari pernikahan tinggal sepelangkah-dua, toh saya masih juga selalu bertanya pada diri sendiri, sebagai suatu kenyataan, bukan sebagai sekadar angan-angan atau harapan, seperti yang kita bilang, saya masih saja bertanya, “Benar-benar saya tidak salah pilih?”

“Cinta, mencintai, dan dicintai, sebagai suatu kenyataan, bukan sebagai sekadar angan-angan ataupun harapan, seperti yang kita bisa baca dan lihat novel-novel pop, film-film picisan dalam negeri, sebenarnya tidak ada sangat paut-pautnya dengan tindakan memilih atau memilih. Cinta merupakan keniscayaan yang tak terelakkan,” katanya lagi.

Saya setuju.

Ayah ataupun ibu saya bahkan tidak bertanya macam-macam ketika saya meminta kepada mereka untuk melamar gadis saya bagi saya, sebagaimana lazimnya yang termestikan tata krama. Keduanya bahkan tidak bertanya tentang, misalnya, apakah bahwa saya sudah mantap, sudah siap, dan yang sejenis itu. Keduanya, dengan cara mereka masing-masing, sepenuhnya merestui. Pada Tuhan untuk mendengar deret nasihat, atau yang semacam itu, sebelum pun mereka menyatakan kesediaan untuk melamar calon istri saya. Semua mengalir langsam, sederhana, dan tanpa romantisme macam-macam. Praktis sekali.

Terus terang, saya sangat merasa tertolong oleh keadaan, bahwa mereka percaya dan memahami saya.

Semula saya bayangkan, inilah saat-saat menegangkan bagi saya dalam hidup saya. Tapi, apa-apa…

“Mungkin, tapi bukan tanpa landasan filosofis, Bung!” kata saya.

“Ha? Ada filsafatnya?” tanyanya. Saya mengangguk, “Ada filsafatnya!” Kata saya menegaskan.

“Tapi, mengapa kardus, dan bukan plastik, atau baja, atau apa yang lainnya, atau bahkan kardus?”

“Plastik, lebih lagi baja, kalau habis dipakai, dan kemudian dibuang akan tidak mudah dicerna bumi melalui proses pembusukan alamiah. Tapi, kardus gampang!”

“Jadi?”

“Saya, maksudku kami, ingin agar kami menjadi pengantin yang tidak merepotkan dunia!” Kata saya.

Teman saya tergelak lagi. “Plastik memang potensial menimbulkan pencemaran,” katanya. “Kecuali itu juga artificial. Tidak alamiah.”

Ia mengangguk-angguk. “Berbeda dengan kardus, ya,” katanya. “Sederhana dan alamiah, gampang didaur ulang.”

“Bagus itu,” katanya. “Bagus. ‘Pengantin Kardus’! Hm, aku juga mau mengakuinya untuk sebuah cerita pendek,” katanya. Lalu untuk kali yang kesekian tergelak-gelak. Saya mengembarkan pandang mata ke luas lapang melalui jendela yang lebar membuka. Saya melihat langit bertebar bentuk wujud yang lebar membentuk gugus-gugus mega. Saya melihat gugus-gugus mega itu menjelma singa, seolah mengepung sepasang gugus mega yang merupakan pengantin….

4 Mei 1991 Semarang
Ulang tahun ke-28

02 · Dokumen Digital

Baca hasil pindai.

Gunakan pembaca dokumen untuk menelusuri halaman hasil digitalisasi. Dokumen dapat diperbesar, diperkecil, dan dibaca langsung melalui halaman ini.

Harian Wawasan – Semarang, 5 Mei 1991

Timur Sinar Suprabana

Pengantin Kardus

SAYA harus datang itu. Harus. Tidak bisa tidak, Saya harus datang, itu.

yang kemudian ia nyatakan dalam kegembiraan yang berkesan pongah ketika untuk kali pertama, melalui seorang sahabat, ia mendengar kabar bahwa pada tanggal empat Juli, saat saya genap berusia dua puluh delapan tahun lebih dua bulan, saya akan menikah.

Terus terang, saya merasa berhadap-hadap dengan sisa keharuan lantaran kegembiraannya. Tetapi, tak perlu saya sembunyikan, saya kurang suka dengan kepongahan yang terkandung di dalam kegembiraannya.

Barangkali lantas berkesan aneh bagi Anda, jika kemudian Anda mengerti bahwa pada kenyataannya dia sudah tak lagi ada dan tak lagi hidup di dalam batin, fikir, dan rasa yang melingkupi keberadaan saya, meski ia dahulu adalah sahabat saya. Sahabat terbaik, tetapi tidak sekaligus sahabat sejati. Kini, sejak bulan Oktober tahun lalu, ia bukan apa-apa dan bukan pula siapa-siapa bagi saya. Sesuatu sudah menodakan kami, dan mengembalikan kami sepenuhnya hanya sebagai aku dan dia. Tanpa keterkaitan, kecuali terhadap keteringatan, bahwa dulu kami pernah sangat bersahabat.

Saya sudah sangat hampir melupakan kalau bahwa ia masih ada, sampai sahabat saya yang lain bercerita mengenai reaksinya ketika mendengar kabar itu, dan bagaimana ia kemudian menempatkan dirinya dalam taraf sedemikian aneh. Sampai menitahkan diri bahwa ia harus datang. Padahal, barangkali ini Anda anggap kelewatan, saya sama sekali tidak dilintasi pemikiran untuk juga mengundangnya. Saya memang benar-benar sudah melupakannya.

“Apakah engkau memang benar-benar tidak berpikir untuk juga mengundangnya?” tanya sahabat saya itu. “Tidak,” kata saya. Pelan dan datar. “Soalnya sederhana saja,” kata saya menambahkan, “pernikahan itu sendiri saya ingin benar-benar dihadiri oleh sahabat-sahabat dekat. Engkau mestinya mengerti, bahkan sebenarnya saya ingin pernikahan itu tidak usah diramaikan. Biarlah berlangsung diam-diam.” Dan sahabat saya beberapa kali mengangguk-angguk. “Sekarang ini jaman susah,” kata saya. “Apa-apa mahal. Saya merasa perlu untuk bersikap praktis, agar tak terlalu berat di ongkos.”

Sahabat saya masih mengangguk-angguk beberapa kali sebelum kemudian bertanya. “Tapi, bagaimana dengan fihak keluarga calon istrimu? Maksudku, apakah mereka bisa menerima pola pikir dan keinginanmu?” Pertanyaannya membuat saya mendesah.

“Mula-mula sempat ribut juga. Tapi syukurlah, kata sepakat akhirnya tercapai. Mereka hanya ingin bahwa pernikahan kami tidak berlangsung diam-diam. Meski sangat sederhana tetapi mesti diresepsikan.”

“Tidak usah mengundang banyak orang,” kata calon ibu mertua saya ketika itu. “Cukup keluarga dan kerabat dekat saja.”

Untuk kali yang kesekian sahabat saya mengangguk-angguk. Saya hampir tak bisa menahan gelak ketika ingat sesuatu dan berkata,

“Tetapi, saya sempat kaget juga ketika mendengar kabar keluarga dan kerabat dekat yang diundang. Jumlahnya jauh lebih banyak dari yang saya perkirakan semula. Empat ratus tujuh puluh satu orang!”

“Nha, mana mungkin sebuah resepsi pernikahan yang mengundang orang sejumlah itu, hanya dari fihak keluarga wanita, bisa terapkan sederhana?”

“Terlalu riuh itu!”

“Tentu saja, saya pun segera kembali meringkasnya. Mengundang yang benar-benar keluarga dan kerabat dekat saja. Lebih dari tiga ratus tujuh puluh orang yang tadinya, kini puluh orang.”

Entah, apanya apa bagian yang lucu pada soal ini sehingga sahabat saya tergelak mendengarnya.

Saya ikut tertawa. Saya gembira, malah ia tertawa. Lepas dan sehat. Jarang sekali, entah mengapa saya tertawa sebagaimana saat ini.

“Dari fihakmu, berapa orang yang terdaftar?”

“Empat puluh dari kalangan keluarga. Keluarga Pakde dan Paklik, Bude dan Bulik, dan beberapa orang yang kerabat dekat saja. Dari Surabaya dan Solo. Ditambah dua puluh delapan sahabat sejati saya.”

“Termasuk saya?”

“Tentu saja, termasuk kamu!”

Sahabat saya kembali terbahak. Lagi, saya merasa bergembira mendengar suara tawanya, dan sungguh-sungguh memang sahabat sejati saya.

Sahabat saya ini seorang novelis, cerpenis, dan sesekali menulis puisi. Bahkan, ia juga menulis naskah drama, dan pernah suatu kali mengerjakan kami — yang oleh sebagian orang awam disebut sebagai “seniman” — bahwa sahabat saya ini sebenarnya adalah juga seorang aktor drama. Kebetulan, beberapa kali dalam beberapa lakon main bersama saya. Sebenarnya, ia adalah aktor yang sesungguh-sungguhnya, bahkan sepanjang hari sepanjang hidupnya, dalam kesehariannya. Ia orang hebat, katanya teman yang lain mengenai sahabat saya ini. “Orang hebat yang hanya bersahabat dengan orang-orang yang juga hebat. Hebat di masa kini, dan hebat di kelak kemudian hari.”

Hebat atau tidak hebat saya tidak terlalu mempersoalkannya. Saya cukup memandangnya sebagai salah seorang sahabat sejati saya.

Ia pula yang, menurut rencana, hendak saya serahi menangani dekorasi ruang pernikahan saya.

“Agar ruang pernikahan tidak hampa, dan tetap mengandung aksentuasi teatral,” kata saya ketika itu. Saya tidak berpesan macam-macam, dan hanya berupa ucapan yang akan menggarap setting untuk sebuah pementasan drama paling menakjubkan dalam hidup saya.”

Dan ia mengangguk faham. Matanya berbinar. Sebuah kerja besar, barangkali begitu ia membayangkan, siap ditempuhnya. Saya tahu ia serius.

Soal pernikahan itu sendiri, maksud saya rencana pernikahan, saya tidak benar-benar serius memikirkannya. Saya menjalani dan menghayati hari-hari akhir kejanggalan saya tanpa obsesi apa pun.

Mengalir lurus, tanpa kelokan. Yang sesekali melintas lintas dalam keterfikiran saya justru soal-soal semacam ini. “Sesudah saya menikah, dan itu artinya saya bukan lagi aku sebagaimana aku pada hari-hari dan deret tahun sebelum menikah, apakah saya mampu menjadi suami yang baik bagi istri saya? Apakah saya sanggup benar-benar menghidupi dan menghidupkan kami tanpa mesti kehilangan daya jelajah saya, baik sebagai pribadi atau pun sebagai seniman?”

“Sampai di sini saya terbegu, dan bertanya pada diri sendiri, ‘Selama ini aku ini sesungguhnya menyandang peran saya sebagai apa?’ Dan, terus terang, saya mendadak seperti berurusan dengan pemikiran mengenai yang tak terfikirkan. Berhadap-hadapan dengan suatu jenis ketiadaan batas status. Hmngh, menjadi suami yang baik. Ah, betapakah wujud dan cara menjadi suami yang baik itu?”

“Dijalani saja,” kata sahabat saya menyarankan. “Dijalani dan dihayati,” katanya lagi. Lalu, seperti berpusi ia berucap, “Dari hari ke hari, hingga akhirnya sampai di hari.”

Sayalah yang kini mengangguk-angguk, meski tidak benar-benar mampu sepenuhnya memahami apa yang dimaksudkannya.

“Kamu mesti bersyukur,” katanya serius, “Mendapat istri, ah, maksudku calon istri, sebagaimana yang kamu hendak nikahi. Ia perempuan yang baik. Tidak punya kompleks apa-apa yang aneh dengan kehidupan ini. Langsam. Ia juga tidak digilai sunyi, obsesi yang membarengi perasaan, pikiran, ucapan, ataupun tindakannya, sehingga ia mestinya menjadi wanita sebagaimana seharusnya menjadi wanita.”

Katanya berpanjang-panjang. Saya kembali mengangguk-angguk.

“Dia memang sebaik-baik wanita dari jenis yang istimewa bagimu,” katanya. Dan terus terang, entah mengapa, saya suka mendengar pujiannya. Soalnya, meski hari pernikahan tinggal sepelangkah-dua, toh saya masih juga selalu bertanya pada diri sendiri, sebagai suatu kenyataan, bukan sebagai sekadar angan-angan atau harapan, seperti yang kita bilang, saya masih saja bertanya, “Benar-benar saya tidak salah pilih?”

“Cinta, mencintai, dan dicintai, sebagai suatu kenyataan, bukan sebagai sekadar angan-angan ataupun harapan, seperti yang kita bisa baca dan lihat novel-novel pop, film-film picisan dalam negeri, sebenarnya tidak ada sangat paut-pautnya dengan tindakan memilih atau memilih. Cinta merupakan keniscayaan yang tak terelakkan,” katanya lagi.

Saya setuju.

Ayah ataupun ibu saya bahkan tidak bertanya macam-macam ketika saya meminta kepada mereka untuk melamar gadis saya bagi saya, sebagaimana lazimnya yang termestikan tata krama. Keduanya bahkan tidak bertanya tentang, misalnya, apakah bahwa saya sudah mantap, sudah siap, dan yang sejenis itu. Keduanya, dengan cara mereka masing-masing, sepenuhnya merestui. Pada Tuhan untuk mendengar deret nasihat, atau yang semacam itu, sebelum pun mereka menyatakan kesediaan untuk melamar calon istri saya. Semua mengalir langsam, sederhana, dan tanpa romantisme macam-macam. Praktis sekali.

Terus terang, saya sangat merasa tertolong oleh keadaan, bahwa mereka percaya dan memahami saya.

Semula saya bayangkan, inilah saat-saat menegangkan bagi saya dalam hidup saya. Tapi, apa-apa…

“Mungkin, tapi bukan tanpa landasan filosofis, Bung!” kata saya.

“Ha? Ada filsafatnya?” tanyanya. Saya mengangguk, “Ada filsafatnya!” Kata saya menegaskan.

“Tapi, mengapa kardus, dan bukan plastik, atau baja, atau apa yang lainnya, atau bahkan kardus?”

“Plastik, lebih lagi baja, kalau habis dipakai, dan kemudian dibuang akan tidak mudah dicerna bumi melalui proses pembusukan alamiah. Tapi, kardus gampang!”

“Jadi?”

“Saya, maksudku kami, ingin agar kami menjadi pengantin yang tidak merepotkan dunia!” Kata saya.

Teman saya tergelak lagi. “Plastik memang potensial menimbulkan pencemaran,” katanya. “Kecuali itu juga artificial. Tidak alamiah.”

Ia mengangguk-angguk. “Berbeda dengan kardus, ya,” katanya. “Sederhana dan alamiah, gampang didaur ulang.”

“Bagus itu,” katanya. “Bagus. ‘Pengantin Kardus’! Hm, aku juga mau mengakuinya untuk sebuah cerita pendek,” katanya. Lalu untuk kali yang kesekian tergelak-gelak. Saya mengembarkan pandang mata ke luas lapang melalui jendela yang lebar membuka. Saya melihat langit bertebar bentuk wujud yang lebar membentuk gugus-gugus mega. Saya melihat gugus-gugus mega itu menjelma singa, seolah mengepung sepasang gugus mega yang merupakan pengantin….

4 Mei 1991 Semarang
Ulang tahun ke-28

Arsip Digital Timur Sinar Suprabana

Telusuri hasil digitalisasi lainnya.

Lihat Olahan Pindai →
×

Harian Wawasan – Semarang, 5 Mei 1991 Timur Sinar Suprabana Pengantin Kardus SAYA harus datang itu. Harus. Tidak bisa tidak, Saya harus datang, itu. yang kemudian ia nyatakan dalam kegembiraan yang berkesan pongah ketika untuk kali pertama, melalui seorang sahabat, ia mendengar kabar bahwa pada tanggal empat Juli, saat saya genap berusia dua puluh delapan…