
Harian Wawasan – Semarang, 14 Januari 1990
Timur Sinar Suprabana
Romansa Mengenai nan Tak Kunjung Sampai
Pernah suatu hari dalam hidup, lima atau tujuh tahun kepungkur, aku ada bersama perasaan percaya dan kenyataan mempercayai terhadap pesona mengenai pemikiran tentang hal-hal yang tak terfikirkan. Eksistensi. Ide. Aku. Ada. Nama. Segala yang tak mukim. Melayang. Mencintai. Menyetial. Memberi. Pasrah…
Pemikiran tentang hal-hal yang tak terfikirkan, menggebang untuk, menjadikan aku berperasakan sebagai aku dengan peyakinan besar. A. A dari jenisnya yang paling ku. Kukuh, dan dingin. Muda, gagah, dan tampan. Ada di segala. Dan, terhadap diri, beserta perasaan-pemikiran-tindakan-penghayatan, aku menaruh/lekapkan nilai lebih. Utuh dan total sebagai ketibaan-tibaan. Menjelma bagian pengharapan bagi siapa atau siapa yang bukan aku, dan ada di luarku. Menampak nyaris sempurna menjadi pusat.
Aku, pada ketakterkendalian, menikmati dan dinikmati keseluruhan yang melingkupi. Lepas. Sampai pada batas sebagai aku yang memiliki upaya pencapaian terhadap pembebasan. Kemuliaan yang jauh melayang di atas kenyataan dari penafsiran mengenai kebebasan. Keadaan yang tak aku butuhkan. Karena soal-nya, demikian aku meyakininya, kebebasan bukan dan tidak akan pernah sampai pada kenyataan menjadi istimewa, meski kebebasan berkesan sebagai suatu yang luar biasa. Sungguh, dihadapanku, “kebebasan” hanya bagian dari gaya, hasrat, atau yang sejenisnya. Pembebasan lebih sejati. Aku mengupayakannya. Dan, tentu saja, aku berhasil. Setidaknya, aku merasa berhasil atau, menyangka bahwa aku berhail ada bersama pembebasan (ku)”.
“Hebat, kau!”
Pernyataan inilah yang aku seolah dengar sampai milyar-milyar pengulangan. Diucapsampaikan oleh siapa atau siapa yang bukan aku, tetapi kecanduan saya. Dan, sekali aku ucapkan sendiri.
Ah, “hebat, kau!” sesungguhnya menjadi suatu kepedihan tersendiri. Menyayat.
Membelah.
Aku merasakannya, sebab adalah aku yang sudah disayatnya, lantas dibelahnya pula.
Tanpa perasaan, bersama kenyataan dingin yang meretakkan belulang tubuh dan badanku, sementara diri terpuruk lunglai bersama pemikiran mengenai hal-hal yang tidak terfikirkan…..
“Aku lelah”, kata saya lebih pada diri sendiri.
Ia menghentikan langkah, memandang sekilas pada wajah saya dengan cara yang oleh suatu proses tertentu segera saja saya tafsirkan sebagai sikap meremehkan. Saya menunduk.
“Lantas?”
“Aku butuh istirahat”.
Ia tidak menyatakan suatu pun, melangkah menuju ke tepian, berdiri di bawah rindang sesuatu yang menyerupai pohonan. Saya mengikutinya.
“Dua puluh enam tahun….”
“Berapa jauh yang kau sudah tempuh selama dua puluh enam tahunmu?”
Aku menunduk.
Diam.
Entah mengapa tiba-tiba aku sadar bahwa diam-diam ada yang sedang dengan keji menghakimiku, justru melalui pertanyaan yang terucap seolah bermula dari kelahiran simpati, atau sesuatu yang menyerupainya.
“Tidak seberapa jauh”, kata saya sembari membuang hempasan jangkau pandang mata pada keluasan nan tak berkata di hadapan sana.
“Tidak seberapa jauh?”
Aku kembali menunduk.
“Sesungguhnya, kau pengin kita sampai ke mana, ke apa, atau ke siapa?”
“Kita?”
“Ya. Kita. Atau, apakah bahwa engkau mulai berfikir untuk sebaliknya kita bersilang tempuh”
“Bukan begitu”, kata saya kecut. “Kau tahu, mustahil bagiku untuk ada tidak bersama dan dengan kau”.
Ia tersenyum. “Kedengarannya menyenangkan”, katanya lirih. “Apakah pada kenyataannya tidak cukup menyenangkan?” “Kalau aku harus menjawab pertanyaanmu dengan jujur…. ya?”
“Ya?”
“Bahkan, kau tahu?” katanya sembari memandang tepat pada sepasang mata saya, “pada kenyataannya sangat tidak menyenangkan!”
Ucapannya makin menjadikan saya tak berarti apa-apa di hadapannya. Entah mengapa betapa saya sudah menjadi sangat lemah.
Lama kami tidak saling berucap. Sampai akhirnya mendadak saya teryakini untuk..
“Baiklah”, kata saya pelan,”kalau di luar sangkaku kenyataan yang ada selama ini sesungguhnya sedemikian buruk kau rasakan.”
“Di sini…. Sekaranglah saatnya….”
“Kita pisah”.
Aku benar-benar kecewa dengan ucapan saya, dan aku menjadi lebih kecewa lagi ketika tidak menemukan reaksi yang mengisyaratkan adanya keterkejutan. Ia hanya memandang saya sekilas sebelum kemudian berkata, “aku berharap kau tetap ada sebagai sediakala.
Aku ingin kita bisa sua nun di entah kapan.
Kau masih ingin lebih lagi istirahat di sini?”
Saya mengangguk.
Ia tersenyum.
Ia melangkah.
Ia tak lagi menoleh selepas lewat langkah keempat.
Kami pisah.
Ia ke utara.
Saya masih memandangnya sampai ia wujud menjelma noktah nun di kejauhan lepas dari jangkauan daya pandang mata.
Aku menjadi asing bersama kenyataan ada tak bersama pa atau siapa.
Hambar.
Aku baru berfikir untuk tidak lebih lagi melangkah ketika tiba-tiba sesuatu terasa menggembalau di rongga dada, lantas membadal, menggampar saya dengan keharusan tunggal, “kamu tidak bisa lebih lagi bersipongah memanja badan, tubuh, dan diri bersama sangsai dan keenggananmu.”
“Sekarang, berangkatlah.” Saya protes. “Berangkat? Ke mana?” “Pokoknya berangkat!” Saya marah. “Pokoknya! Pokoknya! Tapi ke mana?”
“Ke segala!” Apa yang dikehendakinya benar-benar sudah memproses saya sampai batas nyaris membuat saya menjadi hampir gila. Saya meraung, “tidak! Aku lelah!”
Saya menangis. “Kau pengin makin tak sampai-sampai?” “Persetan dengan sampai atau tak sampai! Aku tak kuat untuk lebih lagi…”
Saya tidak lagi sekedar menangis, tetapi sudah menjelma menjadi tangis itu sendiri. Melayang tak ke apa, tak ke mana, tak ke siapa. Bersama kesadaran saya.
Aku menjelma kenangan. Bagimu.
Nb
Terima kasih.
Bahwa kamu tak pernah melupakan saat kapan aku menjadi yang menafasi peristiwa dan menghidupkan kejadian. (Sesudahnya, sungguh, aku suka mengenangkan kau Pembebasan!)
PEKUBURAN kembali sunyi. Orang-orang beriring menurut setapak jalan. Nun jauh dari ketinggian luas lapang langit raya aku menyaksikan seolah mereka sedang melangkah dalam pawai.
Lamat-lamat aku dapat dengar riuh cakap menyebut-nyebut nama.
Sayang, di sini, aku tak lagi mungkin bicara dengan bahasa manusia biasa.
