
Dharma, 30 Mei 1982
Catatan Dari Diskusi Di Radio IBC :
SESUNGGUHNYA AKAL DAN RASA ITU BERSAMA
Minggu pagi 16 Mei 1982 di studio radio IBC Semarang, Kelompok Study Sastra IBC menyelenggarakan diskusi yang dihadiri oleh lk. 30 peserta, dengan topik makalah “Antara : Sopan Santun dan Rasionalis” oleh Drs. Setyo Yuwono dan “Sikap Budaya Kita : Orientasi Kultural Yang Ambigu” oleh Heru Emka.
Start acara berjalan sejuk lamban, karena direktur IBC Abu Bakar sebagai tuan rumah dan pembicara pertama memang belum “menyulut api” diskusi. Abu Bakar mengawali dengan fooding, penyampaian hasil riset IBC lewat Net Work dengan SRG (Survey Riset Group) internal, yang mana diterangkan bahwa di Indonesia kehidupan kaum remaja pada umumnya masih dalam kondisi “lumayan” dilihat dari sisi sikap terhadap rokok mariyuana. 99 prosen Indonesia menyatakan tidak baik, sementara pendapat yang sama di Australia dan Eropa 74 prosen. Terhadap sex di luar nikah 90 prosen orang Indonesia menolak, 38 prosen di Jepang, 22 prosen di Eropa, 36 prosen di Australia. Tentang membolos sekolah atau bekerja 96 prosen orang Indonesia mengatakan tidak baik, 68 prosen di Jepang, dan Australia. Masalah Keluarga Berencana mendapat sambutan positif dari kaum pria Indonesia 96 prosen, 100 prosen wanita, dan ingin punya keturunan lebih sedikit daripada orang tuanya.
Rupa-rupanya penyampaian fooding itu tidak berkenan oleh audience, yang sudah terlanjur terbius dan “spang” dengan makalah-makalah yang diterimanya sebelum acara dimulai secara resmi. Sedangkan moderator Pamudji MS sendiri juga tidak menyinggungnya sedikitpun. Memang sebenarnyalah bahwa topik diskusi bukan fooding tadi, melainkan seperti yang tertera dalam makalah-makalah tersusun.
Ketika Drs. Setyo Yuwono membacakan kertas kerjanya, audience tekun mengikutinya, namun begitu selesai dibacanya, mereka siap dengan peluru masing-masing untuk kemudian ditembakkannya padanya. Di luar dugaan yang terjadi. Seolah bagaikan dialog yang datang dari sumber berlainan. Satu pihak berdiri di Subuh, pihak satu lagi berada di Johar, dan yang sisanya berada di Kalibanteng. Sehingga belum tampak ujud titik temunya, dan sumbang, semu, melingkar tak diketahui ujung pangkalnya. Bahkan yang sempat penulis catat bahwa makalah Bung Yuwono itu sebagian besar bersifat tanya, selebihnya mengundang tanya. Misalnya: Bagaimana sikap kita terhadap orientasi kebudayaan ?
Kalau Mochtar Lubis dan Mochtar Buchari pernah mengatakan kebudayaan Indonesia masih dalam proses pembentukan, maka sampai kapankah pembentukan itu ? Kalau pada jaman dahulu bangsa kita dikenal sebagai pelaut ulung apakah julukan itu masih bertahan sampai kini ? Tidak kalahkah pelaut kita dengan pelaut Inggris dalam perebutan Malvines ? Apakah yang terjadi pada beberapa tahun kelak ? Kalau kita sadar bahwa Disco tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia, apakah tidak baiknya harus dikembalikan ke negara asalnya ? Apakah berarti semua kebudayaan barat berpindah ke timur ? Dsb. dsb., yang selalu diakhiri dengan tanda tanya.
Sedangkan di lain bagian mengundang banyak tanya, sehingga Pamudji MS juga bertanya : Mengapa orang-orang desa juga memerlukan TV berwarna, tidak cukup dengan dolanan jamuran, benthik, atau jethung mumpet saja ?
Cecep Rohendi yang dosen Seni Rupa IKIP Semarang merespon “mangan ora mangan waton ngumpul” dan “alon alon waton kelakon” yang menurut Yuwono harus dihapus itu, dengan tanya pula : Kalau filsafat Jawa itu tidak mengandung unsur kebaikan, kenapa cukup bertahan sampai anak cucu, dan mengapa lahir justru di kalangan orang-orang Jawa yang dominan waktu itu ?
Timur Sinar Suprabana : Tidakkah kita akan cemas karena tidak akan menemukan sesuatu dalam forum ini, selama kita masih seperti kebanyakan orang Indonesia ? Kenapa tidak ditegaskan saja, apa sih maunya dengan diskusi ini dan apa sih yang kita cari sesungguhnya ?
Anggoro Suprapto memanfaatkan “bumerang” Yuwono Tidakkah Yuwono terjebak dengan kata kata sendiri yang mengatakan bahwa sopan itu apakah rasional, rasional itu apakah sopan, apakah sopan itu tidak rasional, dan rasional itu apakah tidak sopan ? Lantas bagaimana dengan kebudayaan mundhuk-mundhuk ?
Yudhi MH : Tidak mungkinkah kita membuka pintu untuk menerima faham dari luar ?
Gunoto Sapari : Bukankah manusia itu banyak berbuat di luar rasio ?
Bambang Sadono SY : Apakah rasional itu bukan hanya sebuah bentuk dalam konotasi lain saja dalam kehidupan ini ?
M. Ilham Hamijaya, yang sejak mula sudah menaruh curiga : Makalah itu dibuat atas dasar pesanan atau murni makalah yang mandiri ? Dsb dsb, yang hampir semuanya belum mendapatkan jawaban yang relevan.
Kalau begitu benar juga Iwan Ridwan ketika memancing apakah Yuwono benar-benar menguasai makalah yang dibuatnya. Ternyata tidak sepenuhnya! Lain Yuwono, lain Heru pula. Heru menyampaikan makalahnya yang penuh dengan liputan kekhawatiran. Menurutnya, dalam rekaman perjalanan budaya kita ada kekhawatiran dari “generasi tua” pada seniman muda kita, terutama kepada sikapnya terhadap kebudayaan. “Probity Oriented Class” khawatir kalau seniman muda akan tercabut dari akar budayanya sendiri, untuk kemudian mempelajari Kakawin Kuno saja kita harus ke Leiden dimana Manuskrip itu tersimpan. Patung Cokot dan lukisan Nyoman Lempad sering berpindah keluar negeri. Seni budaya kita menjadi komoditi bangsa asing. Sarjana asing akan lebih beruntung dengan mempelajari dan mengkaji kemudian menguasai Carwa sasta dari pada kita. Kebudayaan asli kita ditiru bangsa asing. Dsb ……
Oh, Heru….. Heru ….. Bukankah sesungguhnya kita tidak perlu khawatir ? Kendati terjadi pergeseran pelacur dosa oleh tante tante girang kota, atau film bersaing dengan kethoprak atau wayang orang, dan apa yang terjadi biar terjadilah. Bukan-kah kita sadar, bahwa kita memang tidak bisa mengetrapkan sistim paksa, untuk bisa menerima yang sesungguhnya kita tidak bisa menerima dan memakainya ? Biarlah kebudayaan ikut ber-revolusi ! Tokh, akan ketahuan dan akan dibuktikan oleh jaman, bahwa “Mutiara” tetap “Mutiara” kendati terbungkus lumpurpun.
Nah, kira-kira apa yang akan diperbuat sepeninggalnya dari forum diskusi yang terhadiri oleh sebagian komponen dari Keluarga Penulis Semarang dan crew serta fans IBC seperti Yoga, Handy TM, Aries K, Ema Er Solepod, Niniek, dll yang kebanyakan tidak angkat bicara karena tidak jelas arahnya.
Tetapi penulis sempat menyunting 2 point dari 2 makalah tersebut.
Bahwa sesungguhnya semakin banyak pengagum, peminat, pengkaji, pengikut, penghayat, perongrong, pengacau dsb dsb… terhadap kebudayaan kita, akan semakin kuatlah eksistensi kebudayaan kita !
Juga bahwa sesungguhnya sopan santun yang hanya bisa dijamah dengan rasa itu terlahir bersama dengan rasionalis yang akrab dengan akal. Rasa dan akal, berjalan bersama, hidup bersama, mati bersama ! ***
(Ign. Item Del.)
Dokumentasi Karya dan Pengetahuan Maestro
Artikel ini merupakan bagian dari dokumentasi digital perjalanan, kegiatan, karya, dan jejak kebudayaan Timur Sinar Suprabana.
