Arsip Berita Timur

Kedaulatan Rakyat | Tatkala Kapoltabes Membaca Puisi, Seniman pun Tercengang-Cengang

Kedaulatan Rakyat, 21 Agustus 1994 Tatkala Kapoltabes Membaca Puisi, Seniman pun Tercengang-Cengang SABTU malam (13/8) lalu, Taman Budaya Raden Saleh suasananya lain dari biasanya. Malam itu, para dramawan, yang karya-karyanya kerapkali dimuat mass media daerah maupun pusat, kumpul-kumpul dalam acara yang diberi thema, “Pesta Sastra Perjuangan” yang diadakan Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) serta Kelompok…

Kedaulatan Rakyat, 21 Agustus 1994

Tatkala Kapoltabes Membaca Puisi, Seniman pun Tercengang-Cengang

SABTU malam (13/8) lalu, Taman Budaya Raden Saleh suasananya lain dari biasanya. Malam itu, para dramawan, yang karya-karyanya kerapkali dimuat mass media daerah maupun pusat, kumpul-kumpul dalam acara yang diberi thema, “Pesta Sastra Perjuangan” yang diadakan Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) serta Kelompok Kerja Kebudayaan Semarang (K3S).

Bagi para pengunjung, kehadiran orang-orang seperti Timur Sinar Suprabana, Triyanto Triwikromo, Beno Siang Pamungkas, Anggoro Suprapto, Ahe Emje, Wiji Thukul, bukanlah asing. Sebab, merekalah yang kini banyak menguasai jagadnya kesenian di kota-kota provinsi Jawa Tengah.

Justru kehadiran Kepala Polisi Kota Besar (Kapoltabes) Semarang, Kol Pol Drs Didi Widayadi, MBA, menjadi acara tersendiri. Kehadiran Kapoltabes, disambut begitu antusias para seniman, terlebih lagi Didi Widayadi bukan sekedar hadir ditengah-tengah para dramawan tadi, tetapi ikut pula membacakan sajaknya, Lintasan Yang Tertinggal yaitu, sajak yang bercerita tentang para polisi gugur di masa awal kemerdekaan sebagai prajurit pejuang, pejuang prajurit.

Pak Didi—demikian panggilan akrab Kapoltabes Semarang, tidak hanya akrab dengan para wartawan yang selalu memburu-nya di kantor Poltabes. Dia, justru menantang kreativitas seniman, sekaligus berani mempertanggung-jawabkan karyanya.

“Saya tidak suka dengan seniman yang tidak profesional, dan beraninya hanya mengatas-namakan kebebasan akademik dan juga berlindung di balik nama dewan kesenian,” ucap Kol Pol Drs Didi Widayadi, MBA menjelang membacakan sajaknya.

Menanggapi hal itu, Drs Beno Siang Pamungkas dari Kelompok Kerja Kebudayaan Semarang (K3S) mengemukakan, keterlibatan Pak Didi pada acara tersebut, merupakan bukti kongkrit kepeduliannya terhadap kesenian Semarang serta para senimannya.

Pesta Sastra Perjuangan, menampilkan pula Sitok Srengenge yang secara khusus datang dari Depok-Bogor, Gigok dan St Wiyono dkk yang membacakan sajak Murtidjono, Dorothea Rosa Herliany, masih banyak pula lainnya.

Dilanjutkan

Dewan Kesenian Jawa Tengah dan Kelompok Kerja Kebudayaan Semarang (K3S), kini sudah membuka pintu bagi kegiatan berkesenian orang-orang budaya Semarang. Bahkan, tidak tanggung-tanggung orang nomor satu di jajaran Kepolisian Semarang pun, memberi dukungan.

Potensi yang dimiliki para seniman kota Semarang (yang sesungguhnya tak teringgal dengan seniman kota lain) hendaknya perlu ditindak-lanjuti dan disikapi. Jangan sampai, awal yang demikian baik ini, tiba-tiba padam lagi. Sehingga, sia-sialah pekerjaan itu semua.

Beno Siang Pamungkas, orang yang begitu gigih menelorkan acara ini hanya dalam waktu satu bulan, memang berjanji akan terus mengadakan berbagai kiprahnya, terutama pembacaan sajak. Dukungan para seniman lainnya, jelas dibutuhkan seperti yang diungkapkan Kapoltabes Semarang Kol Pol Drs Didi Widayadi, MBA, “Pokoknya frame kita harus selalu demi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dan UUD 1945.”

Jadi, marilah kita (para seniman Semarang) bersama-sama menyikapi dan melanjutkan tradisi, Pesta Sastra Perjuangan.

(Fredo)-t

Dokumentasi Karya dan Pengetahuan Maestro

Artikel ini merupakan bagian dari dokumentasi digital perjalanan, kegiatan, karya, dan jejak kebudayaan Timur Sinar Suprabana.

Arsip Berita Timur

Telusuri artikel dan dokumentasi lainnya.

Lihat Arsip Berita →
×

Kedaulatan Rakyat, 21 Agustus 1994 Tatkala Kapoltabes Membaca Puisi, Seniman pun Tercengang-Cengang SABTU malam (13/8) lalu, Taman Budaya Raden Saleh suasananya lain dari biasanya. Malam itu, para dramawan, yang karya-karyanya kerapkali dimuat mass media daerah maupun pusat, kumpul-kumpul dalam acara yang diberi thema, “Pesta Sastra Perjuangan” yang diadakan Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) serta Kelompok…