Arsip Berita Timur

Bernas | Desa Seni, Sebuah Obsesi Lama

Semarang – Bernas, 19 Maret 1992 Desa Seni, Sebuah Obsesi Lama MENJELANG akhir tahun 1991, seorang usahawan Semarang Subroto D, pimpinan PT Bahana Amurwa Bhumi, melontarkan suatu ide untuk membentuk perkampungan seniman di Semarang. Walikota Semarang sendiri tampaknya mendukung gagasan tersebut, sejauh sebagai pemerataan dalam mewadahi pekerja seni yang memerlukan penyantunan. Harapan berikutnya sebagai perangsang…

Semarang – Bernas, 19 Maret 1992

Desa Seni, Sebuah Obsesi Lama

MENJELANG akhir tahun 1991, seorang usahawan Semarang Subroto D, pimpinan PT Bahana Amurwa Bhumi, melontarkan suatu ide untuk membentuk perkampungan seniman di Semarang. Walikota Semarang sendiri tampaknya mendukung gagasan tersebut, sejauh sebagai pemerataan dalam mewadahi pekerja seni yang memerlukan penyantunan. Harapan berikutnya sebagai perangsang bagi seniman muda untuk memasarkan karyanya.

Melihat bahwa cetusan pemikiran ini lahir dari benak usahawan, reaksi spontan dari kaum seniman dan pekerja seni mengalir dengan berbagai dugaan sekaligus kecurigaan. Sebagian menganggap, dambaan semacam ini timbul sebagai akibat kesenjangan yang cukup dalam antara usahawan dan seniman di Jateng.

Lalu muncullah seorang usahawan yang jeli mencetuskan gagasan tentang “pola-kerja seiring dan serasi” antara seniman dan usahawan. Bila sebuah perkampungan seniman atau artis village terbentuk, bukan mustahil bakal lebih terkondisi ajang kerja yang sehat, kini, dan kelak.

Pendapat kurang mendukung datang antara lain dari Pamudji MS, Bb Sadono SY, Timur Sinar Suprabana. Mereka menganggap hal ini agak berlebihan. Soal lainnya, karena belum banyak seniman Semarang khususnya dan Jateng, umumnya yang diajak merembug ide ini.


BERANJAK dari sejarah paguyuban kesenian di Semarang, maka orang pun ingat, bagaimana pada akhir 70-an nama Ki Nartosabdo mencuat. Pertama-tama ia berhasil mencetuskan Nawangi yang mengemban cita pelestarian karya budaya wayang dan seni karawitan (condong raos), yang masih bertahan hingga kini. Bahkan juga, paguyuban Pamarsudi Susastra Jawa, yang dewasa ini dikenal sebagai “Permadani” (1981), yang diasuh Ki Permadi BA.

Di penghujung tahun 1974, sebenarnya Ki Nartosabdo bersama saudara seasas, Ki Kusni, pernah pula mengajukan permohonan kepada Gubernur Jateng Munadi, untuk memperoleh tanah untuk basis koordinatorat antar-artis multisen i. Keduanya memohon setidaknya kawasan Banyumanik atau Karangayu, sebagai lahan calon padhepokan seni, yang akan dinamai Pusat Pembinaan Seni “Keyong Mas”.

Dari harapan ini terkesan, Ki Narto menginginkan terhimpunnya berbagai kreasi seni dalam kancah yang terpadu-utuh.

Sayang, gagasan itu tak sempat terwujud. Apalagi sudah keduluan munculnya Padhepokan Seni Bagong Kussudiardjo di daerah Yogyakarta. Kala itu, Pangdam VII/Diponegoro bahkan menginginkan, sejumlah seniman Jateng dan DIY dapat ikut ambil bagian dalam pengelolaan padhepokan Bagong di desa Kembaran.

Ki Nartosabdo dan Ki Kusni keburu wafat, sebelum gagasan kreatif itu terlaksana. Sedangkan upaya pelestarian aneka seni praktis masih mendambakan wadah.


TAHUN enam puluhan, seniman yang tergabung dalam paguyuban wayang orang Ngesti Pandowo, pernah juga mengimpikan perkampungan khusus di Karanganyar Gunung, bagi pemain wayang dan ketoprak. Kemudian pelukis alam yang rata-rata berusia lanjut, sering mangkal di Pasar Ja’ik, untuk mengadakan dialog rutin. Mereka mendambakan pula desa seni.

Pada dasawarsa sebelumnya, perajin mebel ukir, permainan kanak-kanak, dan bordiran di Pasar Johar juga mencita-citakan adanya Pusat Industri Sederhana di Semarang Timur.

Dengan begitu, keinginan membangun perkampungan seniman seperti yang dicetuskan Subroto itu tak lain pengungkit an obsesi lama. Sejauh ide ini untuk mengangkat martabat seni, tentu saja kita gembira menyambutnya.

Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah bentuk perwujudannya. Misalnya, gagasan ini tidak difokuskan pada aspek ekonomis, tetapi lebih pada sasaran budaya dengan membentuk sanggar artis yang lebih lengkap. Bagaimana pun, inisiatif orang-orang lokal untuk membentuk pilar yang akan menguatkan kesenian perlu didukung. (suryanto s).

Dokumentasi Karya dan Pengetahuan Maestro

Artikel ini merupakan bagian dari dokumentasi digital perjalanan, kegiatan, karya, dan jejak kebudayaan Timur Sinar Suprabana.

Arsip Berita Timur

Telusuri artikel dan dokumentasi lainnya.

Lihat Arsip Berita →
×

Semarang – Bernas, 19 Maret 1992 Desa Seni, Sebuah Obsesi Lama MENJELANG akhir tahun 1991, seorang usahawan Semarang Subroto D, pimpinan PT Bahana Amurwa Bhumi, melontarkan suatu ide untuk membentuk perkampungan seniman di Semarang. Walikota Semarang sendiri tampaknya mendukung gagasan tersebut, sejauh sebagai pemerataan dalam mewadahi pekerja seni yang memerlukan penyantunan. Harapan berikutnya sebagai perangsang…