Arsip Digital · Olahan Pindai

Cerpen: Kobong [Wawasan]

Harian Wawasan – Semarang, 17 Juli 1994 Timur Sinar Suprabana Kobong Mula-mula para buruh pabrik itu cuma sekadar grundelan tiap kali mereka saling mempercakapkan jumlah upah harian, uang lembur dan uang makan yang selama ini mereka anggap berada di bawah standar kelayakan. “Opo tumon? Mosok uang makan kok mung satus!” “Lha, yo! Tapi bagaimana? Kenyataannya…

Jenis Arsip Olahan Pindai
Akses Dokumen Digital
Format PDF / Hasil Digitalisasi
← Kembali ke Olahan Pindai
Pratinjau Arsip Representasi visual dokumen hasil digitalisasi

Harian Wawasan – Semarang, 17 Juli 1994 Timur Sinar Suprabana Kobong Mula-mula para buruh pabrik itu cuma sekadar grundelan tiap kali mereka saling mempercakapkan jumlah upah harian, uang lembur dan uang makan yang selama ini mereka anggap berada di bawah standar kelayakan. “Opo tumon? Mosok uang makan kok mung satus!” “Lha, yo! Tapi bagaimana? Kenyataannya…

Harian Wawasan – Semarang, 17 Juli 1994

Timur Sinar Suprabana

Kobong

Mula-mula para buruh pabrik itu cuma sekadar grundelan tiap kali mereka saling mempercakapkan jumlah upah harian, uang lembur dan uang makan yang selama ini mereka anggap berada di bawah standar kelayakan.

“Opo tumon? Mosok uang makan kok mung satus!”

“Lha, yo! Tapi bagaimana? Kenyataannya kan memang begitu. Sak jeg njumbleg ya jayus itu.”

“Payah, memang. Tapi, lha mbok sampai jembułwanen minta tambah… taruhlah dari seratus rupiah menjadi rongatus seket, modar-matio lho kalau Boss nanggapı!”

“Taik! Jangankan nanggapi! Dipisuhi ngandell Lha masih untung kalau cuman dipisuhi, yen terus malah dipehaka soale dianggap kakehan cangkem?”

“Apes, memang!”

“Hiyha! Kayak Jalidun! Mung disebul! Bihuufh! Terus langsung kontal!”

“Sebenarnya kalau dibanding dengan nasib pekerja pabrik lain di sekitar sini, kita masih mending.”

“Mending bagaimana?”

“Ya mending!”

“Maksudku bandingannya bagaimana kok kamu bisa bilang kita masih mending kalau dibanding dengan nasib pekerja pabrik lain di sekitar sini.”

“Lha ya jelas! Soalnya, bayaran kita kan ndak pernah telat! Memang sedikit, pancen mines, tapi kan ajeg!”

“Ajeg sih ajeg! Tapi apa kamu tidak sadar kalau selama ini kita diperas?”

“Diperas? Oleh siapa?”

“Lha, ya oleh Boss!”

“Tidak! Bukan begitu mestinya! Cara mikirmu mencong!”

“Kok?”

“Jelas! Sebenarnya, kalau kita memang benar pancen diperas, menurut saya yang meres bukan Boss!”

“Lha, lha terus siapa?”

“Nasib!”

“Lha, nasib bagaimana?”

“Nasib kita memang buruk, dan ternyata kita semua tidak berdaya untuk mengatasinya. Kalau memang kita diperas Boss, seperti yang selama ini kalian yakini, lha mengapa tetap saja bertahan kerja di sini? Mengapa tidak metu saja untuk kemudian bekerja di tempat lain yang sanggup membayar buruh-buruhnya dengan lebih pantas? Hayo!”

“Wah, ya berat! Apa kamu ndak tahu kalau cari kerja itu susahnya melebihi pindah gunung Merapi?”

“Lha ya! Itulah wujud nasib buruk kita sebagai buruh! Kalau nasib kita tidak seburuk seperti yang mesti kita panggil sekarang ini, wis to mesti kita tidak akan nyungsang njempalik kerja di tempat mines macam ini!”

“Hnng, ada benarnya juga.”

“Lalu bagaimana?”

“Bagaimana apanya?”

“Yah, untuk memperbaiki nasib, gitu!”

“Wah, bagaimana ya?”

“Aku ada usul!”

“Piye?”

“Kita kompak ngomong bareng-bareng sama Boss!”

“Ho ho ho… ngomong sama Boss? Percum tak bergun!”

“Kok?”

“Pertama. Kalian tahu, Boss sangat jarang berada di sini. Kedua. Selama matahun-tahun kerja di sini kita kan ndak pernah tahu siapa sebenarnya Boss kita itu. Ketiga. Kalau pun memang kita bisa tahu siapa sebenarnya Boss kita itu, dan kita bisa ketemu untuk kemudian ngomong percayalah, Boss akan langsung ngongkon kita pilih: Terima apa adanya dengan riang gembira… atau, minggat dari sini!”

“Memang. Memang.”

“Payah.”

“Ndak. Sebentar. Tadi kamu bilang, bahwa selama ini kita tidak tahu siapa Boss kita yang sebenarnya. Lha Pak…”

“Oh, dia? Apa kamu ndak ngerti kalau dia itu cuman kacung saja? Bedanya dengan kita, dia kacung alusan dan kita ini kacung kasaran. Dia orang kepercayaan Boss, dan kita bukan siapa-siapa bagi Boss.”

“Oooo… Tapi…?”

“Tapi apa? Bagaimana?”

“Kok dia…”

“Maksudmu, kok dia selama ini kayak Boss? Gitu?”

“Hiya!”

“Biasa! Kacung itu kalau dekat sama Boss, siapa pun, lagak lagunya pasti ya ngeBoss! Malah ngluwih-ngluwihi Boss yang sebenar-benarnya Boss!”

“Ooooo… pantes! Jebul mung unthul, to! Lha kok kelakuane ngawu-awu seperti meh nguntal jagat gitu!”

“Nguntal jagat piye, kok ngedab-edabi! Nggaglag ndog kuwuk yo ngandel!”

TIDAK ada seorang pun dari entah berapa ratus buruh itu yang menolak untuk pada akhirnya melakukan mogok kerja. Semua sepakat untuk bertekad menuntut kenaikan upah harian, uang lembur dan uang makan. Hanya itu. Hebatnya, hampir di luar dugaan siapa pun, kurang dari dua jam sejak mogok kerja mulai mereka lakukan, langsung semua tuntutan dipenuhi oleh Bos atau orang kepercayaan Bos. Siapa pun juga orang itu, memang mereka tidak peduli. Pokoknya tuntutan itu dipenuhi. Beres.

“Saya selaku orang nomor satu di pabrik ini sudah mendengar dan memahami tuntutan saudara-saudara sekalian. Dan sekarang juga, agar persoalan menjadi tidak berkembang menjadi kekruhan yang tidak kita inginkan, selaku orang nomor satu di pabrik ini saya tegaskan… tuntutan saudara-saudara sekalian kami terima dan akan kami penuhi selekasnya!”

“Tanya!”

“Ya? Apa?”

“Selekasnya itu kapan?”

“Oooo… itu sekarang juga!”

“Hidup Boss!”

“Sejahtera Boss!”

“Cukup! Cukup! Terimakasih! Tidak usah bersorak-sorak begitu. Saya jadi malu. Nah, sekarang silakan saudara-saudara sekalian kembali ke pos kerja masing-masing! Dan, tolong, spanduk-spanduk serta karton-karton yang bertuliskan tuntutan saudara itu dikumpulkan, lalu kita bakar saja! Setuju?”

“Setujuuuu…!”

“Hidup Boss!”

“Sejahtera Bosa!”

API segera melalap spanduk-spanduk dan karton-karton yang sekitar seratus duapuluh menit lalu sarat dengan berbagai ungkapan tuntutan para buruh. Lidah-lidah api menari-nari di udara yang segera menjadi panas dan terasa memuai. Para buruh juga menari-nari mengelilingi kobaran api. Seperti sekawanan Pramuka sedang menari-nari mengitari api unggun pada suatu malam dalam acara berkemah.

Sambil bertepuk tangan, geleng kirai-geleng kanan, berjingkrak, melompat-lompat, para buruh bernyanyi.

Di sini senang…

Di sana senang…

Di mana-mana hatiku senang!

Upah harian naik! Uang lembur naik! Uang makan naik! Dan, di luar pabrik, harga apa pun juga naik! Sangat naik! Lebih naik dari upah harian, uang lembur, atau pun uang makan para buruh di mana pun di seluruh negeri ini yang barusan naik.

TIBA-TIBA Suara berkata, lirih dan terdengar pedih, “Orang lupa! Sebenarnya yang lebih dibutuhkan bukan kenaikan upah para buruh atau gaji! Tapi, turunkanlah harga semua barang-barang!”

01.Juli. 1994

Bulu Stalan V/102. Semarang

02 · Dokumen Digital

Baca hasil pindai.

Gunakan pembaca dokumen untuk menelusuri halaman hasil digitalisasi. Dokumen dapat diperbesar, diperkecil, dan dibaca langsung melalui halaman ini.

Harian Wawasan – Semarang, 17 Juli 1994

Timur Sinar Suprabana

Kobong

Mula-mula para buruh pabrik itu cuma sekadar grundelan tiap kali mereka saling mempercakapkan jumlah upah harian, uang lembur dan uang makan yang selama ini mereka anggap berada di bawah standar kelayakan.

“Opo tumon? Mosok uang makan kok mung satus!”

“Lha, yo! Tapi bagaimana? Kenyataannya kan memang begitu. Sak jeg njumbleg ya jayus itu.”

“Payah, memang. Tapi, lha mbok sampai jembułwanen minta tambah… taruhlah dari seratus rupiah menjadi rongatus seket, modar-matio lho kalau Boss nanggapı!”

“Taik! Jangankan nanggapi! Dipisuhi ngandell Lha masih untung kalau cuman dipisuhi, yen terus malah dipehaka soale dianggap kakehan cangkem?”

“Apes, memang!”

“Hiyha! Kayak Jalidun! Mung disebul! Bihuufh! Terus langsung kontal!”

“Sebenarnya kalau dibanding dengan nasib pekerja pabrik lain di sekitar sini, kita masih mending.”

“Mending bagaimana?”

“Ya mending!”

“Maksudku bandingannya bagaimana kok kamu bisa bilang kita masih mending kalau dibanding dengan nasib pekerja pabrik lain di sekitar sini.”

“Lha ya jelas! Soalnya, bayaran kita kan ndak pernah telat! Memang sedikit, pancen mines, tapi kan ajeg!”

“Ajeg sih ajeg! Tapi apa kamu tidak sadar kalau selama ini kita diperas?”

“Diperas? Oleh siapa?”

“Lha, ya oleh Boss!”

“Tidak! Bukan begitu mestinya! Cara mikirmu mencong!”

“Kok?”

“Jelas! Sebenarnya, kalau kita memang benar pancen diperas, menurut saya yang meres bukan Boss!”

“Lha, lha terus siapa?”

“Nasib!”

“Lha, nasib bagaimana?”

“Nasib kita memang buruk, dan ternyata kita semua tidak berdaya untuk mengatasinya. Kalau memang kita diperas Boss, seperti yang selama ini kalian yakini, lha mengapa tetap saja bertahan kerja di sini? Mengapa tidak metu saja untuk kemudian bekerja di tempat lain yang sanggup membayar buruh-buruhnya dengan lebih pantas? Hayo!”

“Wah, ya berat! Apa kamu ndak tahu kalau cari kerja itu susahnya melebihi pindah gunung Merapi?”

“Lha ya! Itulah wujud nasib buruk kita sebagai buruh! Kalau nasib kita tidak seburuk seperti yang mesti kita panggil sekarang ini, wis to mesti kita tidak akan nyungsang njempalik kerja di tempat mines macam ini!”

“Hnng, ada benarnya juga.”

“Lalu bagaimana?”

“Bagaimana apanya?”

“Yah, untuk memperbaiki nasib, gitu!”

“Wah, bagaimana ya?”

“Aku ada usul!”

“Piye?”

“Kita kompak ngomong bareng-bareng sama Boss!”

“Ho ho ho… ngomong sama Boss? Percum tak bergun!”

“Kok?”

“Pertama. Kalian tahu, Boss sangat jarang berada di sini. Kedua. Selama matahun-tahun kerja di sini kita kan ndak pernah tahu siapa sebenarnya Boss kita itu. Ketiga. Kalau pun memang kita bisa tahu siapa sebenarnya Boss kita itu, dan kita bisa ketemu untuk kemudian ngomong percayalah, Boss akan langsung ngongkon kita pilih: Terima apa adanya dengan riang gembira… atau, minggat dari sini!”

“Memang. Memang.”

“Payah.”

“Ndak. Sebentar. Tadi kamu bilang, bahwa selama ini kita tidak tahu siapa Boss kita yang sebenarnya. Lha Pak…”

“Oh, dia? Apa kamu ndak ngerti kalau dia itu cuman kacung saja? Bedanya dengan kita, dia kacung alusan dan kita ini kacung kasaran. Dia orang kepercayaan Boss, dan kita bukan siapa-siapa bagi Boss.”

“Oooo… Tapi…?”

“Tapi apa? Bagaimana?”

“Kok dia…”

“Maksudmu, kok dia selama ini kayak Boss? Gitu?”

“Hiya!”

“Biasa! Kacung itu kalau dekat sama Boss, siapa pun, lagak lagunya pasti ya ngeBoss! Malah ngluwih-ngluwihi Boss yang sebenar-benarnya Boss!”

“Ooooo… pantes! Jebul mung unthul, to! Lha kok kelakuane ngawu-awu seperti meh nguntal jagat gitu!”

“Nguntal jagat piye, kok ngedab-edabi! Nggaglag ndog kuwuk yo ngandel!”

TIDAK ada seorang pun dari entah berapa ratus buruh itu yang menolak untuk pada akhirnya melakukan mogok kerja. Semua sepakat untuk bertekad menuntut kenaikan upah harian, uang lembur dan uang makan. Hanya itu. Hebatnya, hampir di luar dugaan siapa pun, kurang dari dua jam sejak mogok kerja mulai mereka lakukan, langsung semua tuntutan dipenuhi oleh Bos atau orang kepercayaan Bos. Siapa pun juga orang itu, memang mereka tidak peduli. Pokoknya tuntutan itu dipenuhi. Beres.

“Saya selaku orang nomor satu di pabrik ini sudah mendengar dan memahami tuntutan saudara-saudara sekalian. Dan sekarang juga, agar persoalan menjadi tidak berkembang menjadi kekruhan yang tidak kita inginkan, selaku orang nomor satu di pabrik ini saya tegaskan… tuntutan saudara-saudara sekalian kami terima dan akan kami penuhi selekasnya!”

“Tanya!”

“Ya? Apa?”

“Selekasnya itu kapan?”

“Oooo… itu sekarang juga!”

“Hidup Boss!”

“Sejahtera Boss!”

“Cukup! Cukup! Terimakasih! Tidak usah bersorak-sorak begitu. Saya jadi malu. Nah, sekarang silakan saudara-saudara sekalian kembali ke pos kerja masing-masing! Dan, tolong, spanduk-spanduk serta karton-karton yang bertuliskan tuntutan saudara itu dikumpulkan, lalu kita bakar saja! Setuju?”

“Setujuuuu…!”

“Hidup Boss!”

“Sejahtera Bosa!”

API segera melalap spanduk-spanduk dan karton-karton yang sekitar seratus duapuluh menit lalu sarat dengan berbagai ungkapan tuntutan para buruh. Lidah-lidah api menari-nari di udara yang segera menjadi panas dan terasa memuai. Para buruh juga menari-nari mengelilingi kobaran api. Seperti sekawanan Pramuka sedang menari-nari mengitari api unggun pada suatu malam dalam acara berkemah.

Sambil bertepuk tangan, geleng kirai-geleng kanan, berjingkrak, melompat-lompat, para buruh bernyanyi.

Di sini senang…

Di sana senang…

Di mana-mana hatiku senang!

Upah harian naik! Uang lembur naik! Uang makan naik! Dan, di luar pabrik, harga apa pun juga naik! Sangat naik! Lebih naik dari upah harian, uang lembur, atau pun uang makan para buruh di mana pun di seluruh negeri ini yang barusan naik.

TIBA-TIBA Suara berkata, lirih dan terdengar pedih, “Orang lupa! Sebenarnya yang lebih dibutuhkan bukan kenaikan upah para buruh atau gaji! Tapi, turunkanlah harga semua barang-barang!”

01.Juli. 1994

Bulu Stalan V/102. Semarang

Arsip Digital Timur Sinar Suprabana

Telusuri hasil digitalisasi lainnya.

Lihat Olahan Pindai →
×

Harian Wawasan – Semarang, 17 Juli 1994 Timur Sinar Suprabana Kobong Mula-mula para buruh pabrik itu cuma sekadar grundelan tiap kali mereka saling mempercakapkan jumlah upah harian, uang lembur dan uang makan yang selama ini mereka anggap berada di bawah standar kelayakan. “Opo tumon? Mosok uang makan kok mung satus!” “Lha, yo! Tapi bagaimana? Kenyataannya…