Arsip Digital · Olahan Pindai

Cerpen: Sebelum A, Sesudah Z [Wawasan]

Harian Wawasan – Semarang, 6 Februari 1994 Timur Sinar Suprabana Sebelum A, Sesudah Z MESKI saya bukan seorang lelaki muda yang bahagia tetapi saya selalu dan senantiasa menemui diri sendiri sebagai seorang lelaki muda yang tidak pernah menderita. Dan meski saya bukan seorang lelaki muda yang… “Dia mencintai sekaligus menyetiai lebih dari siapa pun sanggup…

Jenis Arsip Olahan Pindai
Akses Dokumen Digital
Format PDF / Hasil Digitalisasi
← Kembali ke Olahan Pindai
Pratinjau Arsip Representasi visual dokumen hasil digitalisasi

Harian Wawasan – Semarang, 6 Februari 1994 Timur Sinar Suprabana Sebelum A, Sesudah Z MESKI saya bukan seorang lelaki muda yang bahagia tetapi saya selalu dan senantiasa menemui diri sendiri sebagai seorang lelaki muda yang tidak pernah menderita. Dan meski saya bukan seorang lelaki muda yang… “Dia mencintai sekaligus menyetiai lebih dari siapa pun sanggup…

Harian Wawasan – Semarang, 6 Februari 1994

Timur Sinar Suprabana

Sebelum A, Sesudah Z

MESKI saya bukan seorang lelaki muda yang bahagia tetapi saya selalu dan senantiasa menemui diri sendiri sebagai seorang lelaki muda yang tidak pernah menderita. Dan meski saya bukan seorang lelaki muda yang…

“Dia mencintai sekaligus menyetiai lebih dari siapa pun sanggup mencintai sekaligus menyetiai apa atau siapa yang dia cintai dan dia setia.”

“Dan dia melakukannya tanpa tawar menawar.”

“Lebih dari hanya sekadar melakukannya, dia tahu, mengerti, memahami, dan menghayati benar apa yang dilakukannya dengan sempurna.”

“Bahkan, menurutku, lebih dari hanya sekadar tanpa tawar menawar, agaknya dia adalah juga seorang lelaki muda pemuja totalitas.”

“Benar, memang. Aku ingat prinsip hidupnya.”

“Prinsip hidupnya? Engkau pernah mendengar dia menyatakan kepadamu tentang prinsip hidupnya? Oh, oh, alangkah beruntungnya engkau. Terus terang, meski saya sangat mengenalnya sebagaimana dia mengenal saya, tetapi ia tidak pernah menyatakan sesuatu pun kepada saya mengenai prinsip hidupnya atau sesuatu yang semacamnya. Padahal, kau tahu? Oh, oh, saya pernah sangat ingin bisa mengerti bagaimana ia bisa menjadikan dirinya sendiri sedemikian… oh… oh… apa istilah yang pas untuk menyebutnya, ya…”

“Asli!”

“Tepat itu! Pas! Asli! Ya, saya pernah sangat ingin bisa mengerti bagaimana dia bisa menjadikan dirinya sendiri sedemikian… maaf, pinjam istilah Anda… asli. Dan dikatakannya pada saya ketika itu bahwa… oh, oh, sebaiknya saya tirukan saja. ‘Sederhana saja, itu ditentukan oleh prinsip hidup. Maksud saya, prinsip hidup seseorang, siapapun orang itu, akan menjadikan orang yang bersangkutan sebagaimana ia menjadi sepadan dengan… Nah, demikian dulu ia berkata kepada saya. Sayang sekali, entah mengapa, saya malah tidak segera menanyakan apa atau bagaimana prinsip hidupnya. Sekarang, oh, og, saya bertemu dengan seseorang yang mengetahui prinsip hidupnya. Dan, sungguh saya sangat berharap, tidak berkeberatan untuk juga mengatakannya pada saya, bukan? Maksud saya, prinsip hidupnya itu…

“Tentu saya akan kembali mengatakannya untuk semua yang sekarang ini berada di sini, sebab saya percaya bahwa apa yang saya akan lakukan ini, yakni mengatakan pada orang lain tentang prinsip hidupnya, bukanlah merupakan tindakan yang tidak patut.”

“Ya, ya…”

“Dia bilang bahwa ia memiliki sebelas prinsip dalam hidupnya…”

“Sebelas?”

“Ya. Sebelas. Salah satu di antaranya adalah, begini dia dulu mengatakannya, dengan lembut tetapi tegas sambil memandang langsung dan lurus-lurus pada sepasang mata saya dengan sepasang matanya yang, sebagaimana semua orang yang mengenalnya tahu, sangat menakjubkan: ‘Bagiku hidup ini,’ begitu ia mulai berkata ketika itu, ‘Hanya dikuati oleh satu sikap dari sepuluh sikap lainnya, yakni: Ya sepenuhnya, atau tidak sama sekali. Nah, itulah salah satu dari sebelas prinsip hidupnya!”

“Luar biasa! ‘Ya sepenuhnya, atau tidak sama sekali!’ Itukah?”

“Itulah!”

“Dan…, dan…, sepuluh prinsip yang lainnya?”

“Aku tidak tahu. Tetapi, untuk apa kita tahu sepuluh prinsip yang lainnya itu jika…”

“Jika apa?”

“Jika yang satu itu pun merupakan kemustahilan bagi kesemua kita untuk bisa menerapkannya dalam kehidupan keseharian dengan keyakinan tanpa tawar nawar?”

“Engkau benar. Hanya dia yang sanggup menghela keberadaannya di dalam dan bersama keseimbangan pribadi berdasar pemenuhan prinsip-prinsip hidupnya. Saya pikir, ini barangkali agak terdengar getir lantaran meremehkan diri saya sendiri dan Anda semuanya, memang hanya dia yang sanggup tidak tergoda untuk sesekali menjadi dirinya sendiri di luar prinsip hidup yang diyakini tuahnya.”

Meski saya bukan seorang lelaki muda yang ramah tetapi saya selalu dan senantiasa menerima kehadiran siapa pun dengan kepantasan yang nyaris tidak pernah mengecewakan siapa atau siapa yang datang untuk menemui atau mengunjungi saya. Meski saya bukan seorang lalaki muda yang…

“Terima kasih.”

“Silakan.”

“Sungguh ruang yang hangat dan nyaman di saat hujan menjelang senja seperti sekarang ini.”

“Bagi saya, sungguh merupakan suatu kehadiran yang menyenangkan dan… yaaah… di saat hujan menjelang senja seperti sekarang ini.”

“Saya memang sudah lama ingin datang menemui dan berkenalan dengan Anda.”

“Kalau boleh saya tahu, eeem… Anda dari luar kota?”

“Semacam itu. Tetapi, barangkali ini kedengarannya agak aneh, saya tidak sekadar datang dari luar kota.”

“Luar propinsi?”

“Tidak.”

“Luar pulau?”

“Tidak juga.”

“Luar negeri?”

“Lebih kurang.”

“Oh. Lebih kurang. Berapa lebihnya dan berapa pula kurangnya?”

“Saya mestinya tertawa gembira mendengar pertanyaan Anda yang… maaf, kalau toh ternyata saya tidak tertawa.”

“Itu malah menyenangkan bagi saya. Terus terang, sebenarnya saya tidak pernah suka mendengar suara tawa meski saya sangat senang melihat orang bisa tertawa. Di zaman serba sangat sulit ini makin sedikit orang yang bisa tertawa bukan lantaran ia sedang menertawakan apa atau siapa. Sebaliknya, di zaman serta sangat tidak pasti ini suara tertawa, yang meski mungkin sangat lirih, bisa dengan gampang menimbulkan kesalahfahaman. Jadi…

“Sebersit senyum sudah lebih dari cukup! Bukankah demikian yang Anda hendak katakan?”

“Ya. Sebersit senyum sudah lebih dari cukup. Itulah yang memang saya hendak katakan dan

======

Anda sudah dengan sangat tepat menebaknya sebelum saya mengucapkannya.

“Kadang-kadang saya memang mampu mengetahui, lebih dari sekadar hanya menebak, apa yang orang lain hendak katakan. Saya pikir pastilah itu bakat pribadi.”

“Perpaduan antara bakat pribadi dan kepekaan.”

“Benar. Dan…”

“Kadang-kadang, atau bahkan malah sering, itu justru menimbulkan masalah!”

“Saya… saya… memang itulah yang ingin saya katakan. Persis begitu. Bagaimana…”

“Bagaimana saya bisa mengetahuinya? Persis seperti bagaimana Anda dapat mengetahuinya.”

“Dengan kata lain, kita memiliki kemampuan yang sama?”

“Itu pula yang saya ingin nyatakan.”

“Luar biasa!”

“Tidak terlalu jika itu terjadi pada dua orang yang tampaknya baru saja bertemu dan berkenalan tetapi sesungguhnya keduanya sudah sangat bersahabat sejak jauh sebelum dilahirkan. Dan, itulah posisi kita sekarang.”

“Anda juga tahu?”

“Bahkan saya juga tahu siapa sesungguhnya Anda, dari mana Anda datang, dan untuk keperluan apa Anda menemui saya. Dan…”

“Dan Anda tidak ingin menghindar?”

“Ingin? Oh! Jangankan sampai ingin, berharap ingin saja tidak! Kalaupun saya ingin menghindar. Nah, tolong katakan kepada saya, apakah menurut Anda saya akan bisa menghindar?”

“Memang tidak.”

“Itulah!”

“Jadi?”

“Saya siap! Benar-benar siap! Bahkan saya sudah sangat benar-benar siap sejak entah kapan yang lalu, ketika kali pertama saya merasa dan percaya bahwa Anda akan datang. Dan, kini terbukti, saatnya sudah tiba.”

“Belum benar-benar sudah, baru akan hampir.”

“Maksud Anda, kita masih punya waktu?””

Meski tidak lama tetapi memang kita masih punya waktu.”

“Sayang sekali.”

“Sayang sekali? Mengapa?”

“Padahal saya ingin segera berangkat.”

“Aneh.”

“Mengapa aneh?”

“Tidak apa-apa. Maaf, apakah Anda tidak mencintai kehidupan?”

“Saya? Tidak mencintai kehidupan? O! Tahukan Anda? Di zaman yang serba sangat banyak orang suka melukai kehidupan, misalnya dengan menimbulkan kesusahan bagi lain orang secara pribadi ataupun masal, atau dengan bahkan melalui pembunuhan demi pembunuhan yang sering tanpa alasan yang masuk di akal manusia waras, saya barangkali adalah orang terakhir yang sangat mencintai kehidupan.”

==

Berikut adalah transkripsi teks pada kolom paling kiri yang terlihat di layar:

“Tapi mengapa Anda…”

“Mengapa saya begitu sangat ingin kita segera berangkat yang berarti merupakan akhir kehidupan saya?”

“Ya. Kalau boleh saya mengetahuinya.”

“Tidak. Dalam hidup ini seseorang harus memiliki sesuatu, apapun sesuatu itu, yang sebaiknya siapa atau siapa yang bukan dirinya tidak perlu mengetahuinya.”

“Dan yang saya ingin ketahui itu termasuk yang justru Anda ingin tidak ada sesuatu pun atau apapun atau siapapun yang mengetahuinya?”

“Ya. Dan, maaf kalau saya harus mengingatkan, sekarang waktunya sudah benar-benar tiba, bukan?”

“Saya pikir begitu. Baiklah. Anda ingin saya yang melakukannya atau Anda ingin mengerjakannya sendiri?”

“Begini. Bagi saya, nyawa saya, ingatlah… nyawa saya, adalah yang paling pribadi bagi diri saya sendiri. Jadi jelas… saya tidak ingin dan tidak akan pernah mengizinkan sesuatu pun, apa pun, dan siapa pun menjamahnya meski cuma untuk spersekian detik. Jadi, biarkan saya sendiri yang menangani satu-satunya barang berharga saya yang bernama nyawa saya ini.”

“Baiklah. Silakan. Oh, maaf, maaf, tapi kalau saya boleh tahu bagaimana Anda akan menanganinya? Anda tahu, nyawa Anda sangat liat!”

“Sangat liat? Tidak! Itu istilah yang keliru! Yang benar, atau katakanlah yang tepat, adalah bahwa nyawa saya sangat mencintai dan menyetiai saya. Jadi, tentu saja, hanya saya yang tahu bagaimana cara menanganinya. Bukan Anda. Ya, bukan Anda, meski bahwa tugas Anda memang khas, yaitu menangani pemisahan nyawa seseorang dari orang itu sendiri. Tetapi, Anda tahu, saya lebih dari hanya sekadar cuma seseorang!”

“Saya tahu… saya tahu… yang saya tidak mengerti adalah bagaimana Anda memilih cara untuk mati.”

“Sederhana saja. Begini!”

“Oh! Alangkah indahnya! Alangkah indahnya!”

Berikut adalah lanjutan transkripsi teks pada kolom paling kiri yang terlihat di layar:

“Yyyh… yyyh… ah… Ssssh… angh… ath… indh… ah… bbbbh… bbuuukh… aaaanh…”

Seseorang bertanya kepada orang yang lainnya lagi dengan penuh keingintahuan yang mengandung ketidakpercayaan atau sesuatu yang menyerupai semacam ketidakpercayaan. “Apa betul bahwa dia benar-benar berangkat?”

“Berangkat? Mati! Dia sudah mati!”

“Mati? Benar begitu. Tetapi ia tidak pernah menyebut-nyebut perihal mati. Dalam hidupnya, dulu, ia tidak mengenal kata mati. Dia lebih suka menyebut berangkat.”

“Apa bedanya?”

“Ada bedanya! Mati, barang kali saja, tanpa tujuan. Tetapi berangkat? Pasti berarti ke mana atau ke mana!”

“Apa pun yang dia pernah katakan, dulu, apakah itu penting? Nyatanya dia sekarang sudah mati!”

“Bunuh diri?”

“Tidak! Bukan bunuh diri! Mati! Begitu saja mati! Mati tanpa sebab-sebab yang jelas! Mati tanpa sebab-sebab yang agaknya tidak akan pernah bisa diketahui oleh siapapun! Maksudku, mengapa ia mati dan apa yang menyebabkan kematiannya tidak akan pernah terungkap.”

“Jadi dia mati secara misterius, begitu?”

“Ya.”

“Dan sepertinya ia tahu benar kapan akan mati.”

“Bagaimana engkau bisa menyimpulkan begitu?”

“Terus terang, mengenai bagaimana aku bisa menyimpulkan begitu, aku tidak tahu. Tetapi kalau dilihat dari keadaan jenazahnya, dia seperti sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Dia mati sepertinya sesudah berdandan dan menyisir rambut, seolah sedang hendak pergi ke pesta.”

“Bahkan sepertinya dia juga barusan memakai parfum.”

“Sepertinya dia juga barusan memakai parfum? Mustahil! Kau tahu? Selama ini kita mengenal benar bahwa dia tidak pernah menyukai parfum ataupun bau parfum. Apalagi sampai mau memakai parfum.”

“Tapi aku mencium bau wangi dari jenazahnya.”

“Benar? Dari jenazahnya? Jangan-jangan itu bau parfum dari pelawat lain!”

“Tidak. Aku juga mencium bau wangi, dan itu berasal dari jenazahnya!”

“Malah, kalau kau tidak percaya cobalah tengok ke sana dan raba, sekarang inipun kecuali bau parfum itu masih dapat tercium, jenazah itu juga masih hangat.”

“Masih hangat?”

“Masih hangat!”

“Oh, jangan-jangan…”

“Jangan-jangan apa?”

“Jangan-jangan ia cuma…, cuma berpura-pura…”

“Maksudmu? Ia cuma berpura-pura mati? Begitu?”

“Siapa tahu?”

“Siapa tahu? Ho! Semua yang mengenalnya tahu, ia sangat tidak pernah suka berpura-pura! Jadi, demi apa ia harus berpura-pura justru untuk suatu soal yang memang tidak pantas untuk dijadkan bahan berpura-pura? Apapun yang terjadi ia memang sudah mati.”

02 · Dokumen Digital

Baca hasil pindai.

Gunakan pembaca dokumen untuk menelusuri halaman hasil digitalisasi. Dokumen dapat diperbesar, diperkecil, dan dibaca langsung melalui halaman ini.

Harian Wawasan – Semarang, 6 Februari 1994

Timur Sinar Suprabana

Sebelum A, Sesudah Z

MESKI saya bukan seorang lelaki muda yang bahagia tetapi saya selalu dan senantiasa menemui diri sendiri sebagai seorang lelaki muda yang tidak pernah menderita. Dan meski saya bukan seorang lelaki muda yang…

“Dia mencintai sekaligus menyetiai lebih dari siapa pun sanggup mencintai sekaligus menyetiai apa atau siapa yang dia cintai dan dia setia.”

“Dan dia melakukannya tanpa tawar menawar.”

“Lebih dari hanya sekadar melakukannya, dia tahu, mengerti, memahami, dan menghayati benar apa yang dilakukannya dengan sempurna.”

“Bahkan, menurutku, lebih dari hanya sekadar tanpa tawar menawar, agaknya dia adalah juga seorang lelaki muda pemuja totalitas.”

“Benar, memang. Aku ingat prinsip hidupnya.”

“Prinsip hidupnya? Engkau pernah mendengar dia menyatakan kepadamu tentang prinsip hidupnya? Oh, oh, alangkah beruntungnya engkau. Terus terang, meski saya sangat mengenalnya sebagaimana dia mengenal saya, tetapi ia tidak pernah menyatakan sesuatu pun kepada saya mengenai prinsip hidupnya atau sesuatu yang semacamnya. Padahal, kau tahu? Oh, oh, saya pernah sangat ingin bisa mengerti bagaimana ia bisa menjadikan dirinya sendiri sedemikian… oh… oh… apa istilah yang pas untuk menyebutnya, ya…”

“Asli!”

“Tepat itu! Pas! Asli! Ya, saya pernah sangat ingin bisa mengerti bagaimana dia bisa menjadikan dirinya sendiri sedemikian… maaf, pinjam istilah Anda… asli. Dan dikatakannya pada saya ketika itu bahwa… oh, oh, sebaiknya saya tirukan saja. ‘Sederhana saja, itu ditentukan oleh prinsip hidup. Maksud saya, prinsip hidup seseorang, siapapun orang itu, akan menjadikan orang yang bersangkutan sebagaimana ia menjadi sepadan dengan… Nah, demikian dulu ia berkata kepada saya. Sayang sekali, entah mengapa, saya malah tidak segera menanyakan apa atau bagaimana prinsip hidupnya. Sekarang, oh, og, saya bertemu dengan seseorang yang mengetahui prinsip hidupnya. Dan, sungguh saya sangat berharap, tidak berkeberatan untuk juga mengatakannya pada saya, bukan? Maksud saya, prinsip hidupnya itu…

“Tentu saya akan kembali mengatakannya untuk semua yang sekarang ini berada di sini, sebab saya percaya bahwa apa yang saya akan lakukan ini, yakni mengatakan pada orang lain tentang prinsip hidupnya, bukanlah merupakan tindakan yang tidak patut.”

“Ya, ya…”

“Dia bilang bahwa ia memiliki sebelas prinsip dalam hidupnya…”

“Sebelas?”

“Ya. Sebelas. Salah satu di antaranya adalah, begini dia dulu mengatakannya, dengan lembut tetapi tegas sambil memandang langsung dan lurus-lurus pada sepasang mata saya dengan sepasang matanya yang, sebagaimana semua orang yang mengenalnya tahu, sangat menakjubkan: ‘Bagiku hidup ini,’ begitu ia mulai berkata ketika itu, ‘Hanya dikuati oleh satu sikap dari sepuluh sikap lainnya, yakni: Ya sepenuhnya, atau tidak sama sekali. Nah, itulah salah satu dari sebelas prinsip hidupnya!”

“Luar biasa! ‘Ya sepenuhnya, atau tidak sama sekali!’ Itukah?”

“Itulah!”

“Dan…, dan…, sepuluh prinsip yang lainnya?”

“Aku tidak tahu. Tetapi, untuk apa kita tahu sepuluh prinsip yang lainnya itu jika…”

“Jika apa?”

“Jika yang satu itu pun merupakan kemustahilan bagi kesemua kita untuk bisa menerapkannya dalam kehidupan keseharian dengan keyakinan tanpa tawar nawar?”

“Engkau benar. Hanya dia yang sanggup menghela keberadaannya di dalam dan bersama keseimbangan pribadi berdasar pemenuhan prinsip-prinsip hidupnya. Saya pikir, ini barangkali agak terdengar getir lantaran meremehkan diri saya sendiri dan Anda semuanya, memang hanya dia yang sanggup tidak tergoda untuk sesekali menjadi dirinya sendiri di luar prinsip hidup yang diyakini tuahnya.”

Meski saya bukan seorang lelaki muda yang ramah tetapi saya selalu dan senantiasa menerima kehadiran siapa pun dengan kepantasan yang nyaris tidak pernah mengecewakan siapa atau siapa yang datang untuk menemui atau mengunjungi saya. Meski saya bukan seorang lalaki muda yang…

“Terima kasih.”

“Silakan.”

“Sungguh ruang yang hangat dan nyaman di saat hujan menjelang senja seperti sekarang ini.”

“Bagi saya, sungguh merupakan suatu kehadiran yang menyenangkan dan… yaaah… di saat hujan menjelang senja seperti sekarang ini.”

“Saya memang sudah lama ingin datang menemui dan berkenalan dengan Anda.”

“Kalau boleh saya tahu, eeem… Anda dari luar kota?”

“Semacam itu. Tetapi, barangkali ini kedengarannya agak aneh, saya tidak sekadar datang dari luar kota.”

“Luar propinsi?”

“Tidak.”

“Luar pulau?”

“Tidak juga.”

“Luar negeri?”

“Lebih kurang.”

“Oh. Lebih kurang. Berapa lebihnya dan berapa pula kurangnya?”

“Saya mestinya tertawa gembira mendengar pertanyaan Anda yang… maaf, kalau toh ternyata saya tidak tertawa.”

“Itu malah menyenangkan bagi saya. Terus terang, sebenarnya saya tidak pernah suka mendengar suara tawa meski saya sangat senang melihat orang bisa tertawa. Di zaman serba sangat sulit ini makin sedikit orang yang bisa tertawa bukan lantaran ia sedang menertawakan apa atau siapa. Sebaliknya, di zaman serta sangat tidak pasti ini suara tertawa, yang meski mungkin sangat lirih, bisa dengan gampang menimbulkan kesalahfahaman. Jadi…

“Sebersit senyum sudah lebih dari cukup! Bukankah demikian yang Anda hendak katakan?”

“Ya. Sebersit senyum sudah lebih dari cukup. Itulah yang memang saya hendak katakan dan

======

Anda sudah dengan sangat tepat menebaknya sebelum saya mengucapkannya.

“Kadang-kadang saya memang mampu mengetahui, lebih dari sekadar hanya menebak, apa yang orang lain hendak katakan. Saya pikir pastilah itu bakat pribadi.”

“Perpaduan antara bakat pribadi dan kepekaan.”

“Benar. Dan…”

“Kadang-kadang, atau bahkan malah sering, itu justru menimbulkan masalah!”

“Saya… saya… memang itulah yang ingin saya katakan. Persis begitu. Bagaimana…”

“Bagaimana saya bisa mengetahuinya? Persis seperti bagaimana Anda dapat mengetahuinya.”

“Dengan kata lain, kita memiliki kemampuan yang sama?”

“Itu pula yang saya ingin nyatakan.”

“Luar biasa!”

“Tidak terlalu jika itu terjadi pada dua orang yang tampaknya baru saja bertemu dan berkenalan tetapi sesungguhnya keduanya sudah sangat bersahabat sejak jauh sebelum dilahirkan. Dan, itulah posisi kita sekarang.”

“Anda juga tahu?”

“Bahkan saya juga tahu siapa sesungguhnya Anda, dari mana Anda datang, dan untuk keperluan apa Anda menemui saya. Dan…”

“Dan Anda tidak ingin menghindar?”

“Ingin? Oh! Jangankan sampai ingin, berharap ingin saja tidak! Kalaupun saya ingin menghindar. Nah, tolong katakan kepada saya, apakah menurut Anda saya akan bisa menghindar?”

“Memang tidak.”

“Itulah!”

“Jadi?”

“Saya siap! Benar-benar siap! Bahkan saya sudah sangat benar-benar siap sejak entah kapan yang lalu, ketika kali pertama saya merasa dan percaya bahwa Anda akan datang. Dan, kini terbukti, saatnya sudah tiba.”

“Belum benar-benar sudah, baru akan hampir.”

“Maksud Anda, kita masih punya waktu?””

Meski tidak lama tetapi memang kita masih punya waktu.”

“Sayang sekali.”

“Sayang sekali? Mengapa?”

“Padahal saya ingin segera berangkat.”

“Aneh.”

“Mengapa aneh?”

“Tidak apa-apa. Maaf, apakah Anda tidak mencintai kehidupan?”

“Saya? Tidak mencintai kehidupan? O! Tahukan Anda? Di zaman yang serba sangat banyak orang suka melukai kehidupan, misalnya dengan menimbulkan kesusahan bagi lain orang secara pribadi ataupun masal, atau dengan bahkan melalui pembunuhan demi pembunuhan yang sering tanpa alasan yang masuk di akal manusia waras, saya barangkali adalah orang terakhir yang sangat mencintai kehidupan.”

==

Berikut adalah transkripsi teks pada kolom paling kiri yang terlihat di layar:

“Tapi mengapa Anda…”

“Mengapa saya begitu sangat ingin kita segera berangkat yang berarti merupakan akhir kehidupan saya?”

“Ya. Kalau boleh saya mengetahuinya.”

“Tidak. Dalam hidup ini seseorang harus memiliki sesuatu, apapun sesuatu itu, yang sebaiknya siapa atau siapa yang bukan dirinya tidak perlu mengetahuinya.”

“Dan yang saya ingin ketahui itu termasuk yang justru Anda ingin tidak ada sesuatu pun atau apapun atau siapapun yang mengetahuinya?”

“Ya. Dan, maaf kalau saya harus mengingatkan, sekarang waktunya sudah benar-benar tiba, bukan?”

“Saya pikir begitu. Baiklah. Anda ingin saya yang melakukannya atau Anda ingin mengerjakannya sendiri?”

“Begini. Bagi saya, nyawa saya, ingatlah… nyawa saya, adalah yang paling pribadi bagi diri saya sendiri. Jadi jelas… saya tidak ingin dan tidak akan pernah mengizinkan sesuatu pun, apa pun, dan siapa pun menjamahnya meski cuma untuk spersekian detik. Jadi, biarkan saya sendiri yang menangani satu-satunya barang berharga saya yang bernama nyawa saya ini.”

“Baiklah. Silakan. Oh, maaf, maaf, tapi kalau saya boleh tahu bagaimana Anda akan menanganinya? Anda tahu, nyawa Anda sangat liat!”

“Sangat liat? Tidak! Itu istilah yang keliru! Yang benar, atau katakanlah yang tepat, adalah bahwa nyawa saya sangat mencintai dan menyetiai saya. Jadi, tentu saja, hanya saya yang tahu bagaimana cara menanganinya. Bukan Anda. Ya, bukan Anda, meski bahwa tugas Anda memang khas, yaitu menangani pemisahan nyawa seseorang dari orang itu sendiri. Tetapi, Anda tahu, saya lebih dari hanya sekadar cuma seseorang!”

“Saya tahu… saya tahu… yang saya tidak mengerti adalah bagaimana Anda memilih cara untuk mati.”

“Sederhana saja. Begini!”

“Oh! Alangkah indahnya! Alangkah indahnya!”

Berikut adalah lanjutan transkripsi teks pada kolom paling kiri yang terlihat di layar:

“Yyyh… yyyh… ah… Ssssh… angh… ath… indh… ah… bbbbh… bbuuukh… aaaanh…”

Seseorang bertanya kepada orang yang lainnya lagi dengan penuh keingintahuan yang mengandung ketidakpercayaan atau sesuatu yang menyerupai semacam ketidakpercayaan. “Apa betul bahwa dia benar-benar berangkat?”

“Berangkat? Mati! Dia sudah mati!”

“Mati? Benar begitu. Tetapi ia tidak pernah menyebut-nyebut perihal mati. Dalam hidupnya, dulu, ia tidak mengenal kata mati. Dia lebih suka menyebut berangkat.”

“Apa bedanya?”

“Ada bedanya! Mati, barang kali saja, tanpa tujuan. Tetapi berangkat? Pasti berarti ke mana atau ke mana!”

“Apa pun yang dia pernah katakan, dulu, apakah itu penting? Nyatanya dia sekarang sudah mati!”

“Bunuh diri?”

“Tidak! Bukan bunuh diri! Mati! Begitu saja mati! Mati tanpa sebab-sebab yang jelas! Mati tanpa sebab-sebab yang agaknya tidak akan pernah bisa diketahui oleh siapapun! Maksudku, mengapa ia mati dan apa yang menyebabkan kematiannya tidak akan pernah terungkap.”

“Jadi dia mati secara misterius, begitu?”

“Ya.”

“Dan sepertinya ia tahu benar kapan akan mati.”

“Bagaimana engkau bisa menyimpulkan begitu?”

“Terus terang, mengenai bagaimana aku bisa menyimpulkan begitu, aku tidak tahu. Tetapi kalau dilihat dari keadaan jenazahnya, dia seperti sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Dia mati sepertinya sesudah berdandan dan menyisir rambut, seolah sedang hendak pergi ke pesta.”

“Bahkan sepertinya dia juga barusan memakai parfum.”

“Sepertinya dia juga barusan memakai parfum? Mustahil! Kau tahu? Selama ini kita mengenal benar bahwa dia tidak pernah menyukai parfum ataupun bau parfum. Apalagi sampai mau memakai parfum.”

“Tapi aku mencium bau wangi dari jenazahnya.”

“Benar? Dari jenazahnya? Jangan-jangan itu bau parfum dari pelawat lain!”

“Tidak. Aku juga mencium bau wangi, dan itu berasal dari jenazahnya!”

“Malah, kalau kau tidak percaya cobalah tengok ke sana dan raba, sekarang inipun kecuali bau parfum itu masih dapat tercium, jenazah itu juga masih hangat.”

“Masih hangat?”

“Masih hangat!”

“Oh, jangan-jangan…”

“Jangan-jangan apa?”

“Jangan-jangan ia cuma…, cuma berpura-pura…”

“Maksudmu? Ia cuma berpura-pura mati? Begitu?”

“Siapa tahu?”

“Siapa tahu? Ho! Semua yang mengenalnya tahu, ia sangat tidak pernah suka berpura-pura! Jadi, demi apa ia harus berpura-pura justru untuk suatu soal yang memang tidak pantas untuk dijadkan bahan berpura-pura? Apapun yang terjadi ia memang sudah mati.”

Arsip Digital Timur Sinar Suprabana

Telusuri hasil digitalisasi lainnya.

Lihat Olahan Pindai →
×

Harian Wawasan – Semarang, 6 Februari 1994 Timur Sinar Suprabana Sebelum A, Sesudah Z MESKI saya bukan seorang lelaki muda yang bahagia tetapi saya selalu dan senantiasa menemui diri sendiri sebagai seorang lelaki muda yang tidak pernah menderita. Dan meski saya bukan seorang lelaki muda yang… “Dia mencintai sekaligus menyetiai lebih dari siapa pun sanggup…