Arsip Digital · Olahan Pindai

Puisi: Rindu pada Ibu [Harian Kartika]

Harian Kartika – Semarang, 9 April 1989 Timur Sinar Suprabana Rindu Pada Ibu makin menjelma kian ini rinduterhadap wajah dan hati ibuhabis suara nyerunyerusampai sunyi mengeras dalam kalbu ……… sebagai jendela yang senantiasa terbukasebagai angin yang menghela gugusmega sebagai ombak di luas samudrasebagai potret lamaterhadap diri, jiwa, hidup, usiasiapa meniupkan nyawa ……… ketika bahkan terhadap…

Jenis Arsip Olahan Pindai
Akses Dokumen Digital
Format PDF / Hasil Digitalisasi
← Kembali ke Olahan Pindai
Pratinjau Arsip Representasi visual dokumen hasil digitalisasi

Harian Kartika – Semarang, 9 April 1989 Timur Sinar Suprabana Rindu Pada Ibu makin menjelma kian ini rinduterhadap wajah dan hati ibuhabis suara nyerunyerusampai sunyi mengeras dalam kalbu ……… sebagai jendela yang senantiasa terbukasebagai angin yang menghela gugusmega sebagai ombak di luas samudrasebagai potret lamaterhadap diri, jiwa, hidup, usiasiapa meniupkan nyawa ……… ketika bahkan terhadap…

Harian Kartika – Semarang, 9 April 1989

Timur Sinar Suprabana

Rindu Pada Ibu

makin menjelma kian ini rindu
terhadap wajah dan hati ibu
habis suara nyerunyeru
sampai sunyi mengeras dalam kalbu

………

sebagai jendela yang senantiasa terbuka
sebagai angin yang menghela gugusmega

sebagai ombak di luas samudra
sebagai potret lama
terhadap diri, jiwa, hidup, usia
siapa meniupkan nyawa

………

ketika bahkan terhadap kekasih kita pun melupa
ketika tibatiba keengganan untuk sua menggoda
apakah bisa kamu tidak bercakap dengan hati
apakah sanggup kamu memutus janji

ketika terhadap ibu
tiba-tiba rindu

………

ah
betapa lama pada ibu
aku tak rindu
sampai ini jiwa
belah jadi dua
resah

02 · Dokumen Digital

Baca hasil pindai.

Gunakan pembaca dokumen untuk menelusuri halaman hasil digitalisasi. Dokumen dapat diperbesar, diperkecil, dan dibaca langsung melalui halaman ini.

Harian Kartika – Semarang, 9 April 1989

Timur Sinar Suprabana

Rindu Pada Ibu

makin menjelma kian ini rindu
terhadap wajah dan hati ibu
habis suara nyerunyeru
sampai sunyi mengeras dalam kalbu

………

sebagai jendela yang senantiasa terbuka
sebagai angin yang menghela gugusmega

sebagai ombak di luas samudra
sebagai potret lama
terhadap diri, jiwa, hidup, usia
siapa meniupkan nyawa

………

ketika bahkan terhadap kekasih kita pun melupa
ketika tibatiba keengganan untuk sua menggoda
apakah bisa kamu tidak bercakap dengan hati
apakah sanggup kamu memutus janji

ketika terhadap ibu
tiba-tiba rindu

………

ah
betapa lama pada ibu
aku tak rindu
sampai ini jiwa
belah jadi dua
resah

Arsip Digital Timur Sinar Suprabana

Telusuri hasil digitalisasi lainnya.

Lihat Olahan Pindai →
×

Harian Kartika – Semarang, 9 April 1989 Timur Sinar Suprabana Rindu Pada Ibu makin menjelma kian ini rinduterhadap wajah dan hati ibuhabis suara nyerunyerusampai sunyi mengeras dalam kalbu ……… sebagai jendela yang senantiasa terbukasebagai angin yang menghela gugusmega sebagai ombak di luas samudrasebagai potret lamaterhadap diri, jiwa, hidup, usiasiapa meniupkan nyawa ……… ketika bahkan terhadap…