
Semarang – Suara Karya, 10 Oktober 1980
Handriyo Utomo
Dialog NH Dini dengan Keluarga Penulis Semarang
Pada tanggal 21 September 1980 yang lalu, bertempat di gedung Balai Wartawan Semarang berlangsung dialog antara seniman-seniman Semarang dgn seorang pengarang wanita terkenal yang telah lama menetap di Paris. Dialah NH. Dini.
Dalam pertemuan sastra tersebut, hadir si “Bangsat”, Darmanto Jt, Yudiono Ks. (sarjana Sastra yang kini menjadi dosen di UNDIP), B. Soetiman, dan juga penulis-penulis muda Semarang seperti: Bambang Sadono Sy, Anggoro Suprapto, Noeng Ranua, Yant Mujianto, dll.
Pada awal perjumpaan itu NH. Dini mengatakan, bahwa ia merasa sangat senang dapat pulang kembali ke Kota kelahirannya, setidak-tidaknya lebih berkesan dibanding kepulangannya yang terdahulu. Semarang yang oleh sementara orang disebut sebagai kota gersang akan kehidupan seni itu, kini telah mempunyai beberapa perkumpulan seni sastra seperti; “Yayasan Keluarga Penulis Semarang”, “BENING”, “Kelompok Peminat Seni ‘DONG’ SMA Negeri III Semarang” dll.
“Siang ini saya tidak menyiapkan kertas kerja. Terus terang, waktu ini saya belum bersedia membuatnya. Saya lebih suka santai,” ucapnya. Kemudian apakah kegiatan Dini selama dua tahun terakhir ini? Dengan panjang lebar dijelaskannya cerita-cerita tentang dirinya selama itu, dari kepulangannya ke tanah air tahun 1978 yang lalu sampai pada perkenalan karya-karyanya yang terbaru. Pada tahun 1978 Dini sempat berbicara di TIM, kemudian ia sibuk mempersiapkan tulisan-tulisan yang akan diterbitkan.
Dini yang usianya menjelang empat puluh empat tahun ini pembawaannya masih tetap lincah, judes dan kenes. Sesekali omongannya mengundang humor segar yang cukup memikat. Sehingga pengunjung ruangan yang tak ber-AC itu tetap tak berkeming dari tempat duduknya.
“Saya telah mempersiapkan ‘Dongeng Dan Cerita Rakyat Perancis’.”
Menurut saya cerita itu sesuai dengan latar belakang agama, berdasarkan supernatural yang cukup cocok diterapkan ke dalam cerita Indonesia.
Tapi untuk mencari ilustrasi yang sesuai dengan kumpulan-kumpulan cerita itu sangatlah sukar. Pelukis-pelukis kita telah banyak yang lari ke corak abstrak. Jelas saya tidak mau dong, cerita saya bukan menghendaki penggambaran seperti itu. Sedangkan jika buku tersebut terbit, saya pun masih belum memastikan, apakah kumpulan itu terdiri dari sepuluh atau dua puluh judul cerita. Yang jelas cerita itu bukan saya tujukan kepada anak-anak, melainkan sebagai konsumsi bacaan khalayak ramai.
Tapi kapan terbit? Itu masih merupakan sesuatu yang belum dapat diterangkan,” lanjutnya.
Mengenai karya-karyanya yang lain, saat ini di tangan penerbit Pustaka Jaya masih ada dua buah novel terbarunya, yang kemungkinan pada bulan Januari mendatang akan dapat segera dinikmati oleh khalayak. Novel itu masing-masing berjudul “SEKAYU” (nama kampung kelahirannya) dan “KUNCUNG BERSEMI“. Dini pun telah mempersiapkan kumpulan-kumpulan cerita pendeknya yang bertiti mangsa (ditulis) sekitar tahun 1978-1979, dengan judul “SEGI DAN GARIS“. Dan masih ada kumpulan cerita pendek yang saat ini ia belum bersedia mengemukakan judulnya.
Memang, Pertemuan siang itu bukanlah merupakan suatu forum yang resmi-resmian. Katakanlah lebih bersifat santai dan saling terbuka.
Sehingga acara yang hanya dihiasi oleh seteguk teh botol itu pun cukup segar untuk dinikmati. Apalagi setelah panjang lebar Dini bercerita, dan berkenang akan perjalanan hidupnya selama ini. Kendati Dini orang Semarang, tapi memang baru kali itu seniman-seniman Semarang dapat bersitatap secara langsung dengannya (ini suatu kesempatan, sebab menurut rencana, pada bulan Oktober nanti ia akan kembali ke Perancis.) Maka tidak heranlah jika penulis-penulis muda Semarang lebih menekankan antusias yang mantap untuk mempertanyakan lebih jauh akan latar belakang keberhasilannya. Pertanyaan-pertanyaan itu cukup cengeng, tapi bagi para pemula yang ingin berangkat ke jenjang profesinya, sangatlah punya arti dan makna ganda. Pertanyaan-pertanyaan itu antara lain; tentang perenungan yang dibutuhkan dalam suatu penciptaan, penimbaan pengetahuan melalui bacaan lain, dan keterpengaruhan terhadap karya-karya pengarang lain. Hal itu dijawab oleh NH. Dini:
“Ya. Dalam penciptaan saya butuh perenungan. Tapi itu tergantung pada persoalannya; apakah kita perlu merenung terlalu lama atau tidak. Dalam perenungan itu biasanya kita mendapatkan tema. Tema itu kemudian disimpan, dan bacaan-bacaan yang pernah kita peroleh itu akan bergabung menjadi semacam aliran listrik. Tinggal bagaimana cara penyajian cerita itu sendiri pada masyarakat dalam bentuk yang lain. Setelah itu kita mencari fantasi agar tidak membosankan dan tidak terlalu jauh dari kenyataan. Kebetulan semua cerita yang saya tulis sengaja saya ambil dari kehidupan masyarakat itu sendiri.
Tentang keterpengaruhan, lebih seyogyanya terserah pada anda sendiri, apakah saya terpengaruh atau tidak. Saya merasa tidak terpengaruh oleh siapapun.
Saya dapat berkaca, sedang dalam kaca itu terlihat jika saya bergerak ke kiri, bayangan itupun akan bergerak ke kanan, dan sebaliknya. Yang kiri menjadi kanan, yang kanan menjadi kiri. Rupanya memang pembacalah yang berhak menilai, sebab ia lebih mengenal penulis-penulis lain.”
B. Soetiman, seorang penulis kawakan Semarang yang semasa mudanya pernah menjadi teman seperjuangan Dini, siang itu sempat membuka nostalgia kehidupan Dini. “Dini pernah membuat geger wong Solo, waktu itu tahun 1954. Dia tidur di rumah seorang teman seniman lelaki, dan kebiasaannya suka memakai celana laki-laki (slack), padahal waktu itu sangat tabu bagi putri-putri kota Solo.” Para pengunjung pun tertawa.
“Kebiasaan saya memakai celana laki-laki bukan hanya waktu itu.
Sejak tahun 1950 atas suruhan ibu saya, saya disuruh memakai slack. Sebab saya pergi kesekolah naik sepeda laki-laki, saya tidak punya sepeda jengki waktu itu.” Dan ruangan itu bergemuruh kembali mendengar intermezo Dini yang blak-blakan itu.
Mulai nulis di radio.
Tahun 1952 ia mulai menulis di R.R.I. Semarang dengan imbalan 13,5 rupiah jika tulisan itu dibacanya sendiri, dan 7,5 rupiah jika tulisannya dibacakan oleh orang lain. “Ini merupakan permulaan pahit-getirnya perjuangan,” tuturnya.
Pada Sebuah Kapal dapat tanggapan.
Timur Sinar Suprabana, seorang penulis muda yang telah punya nama di Semarang itu mengulas sedikit tentang buku Dini yang berjudul “PADA SEBUAH KAPAL”. “DALAM PADA SEBUAH KAPAL” saya sangat terkesan sekali. Saya beranggapan bahwa dalam novel tersebut Dini sengaja memasukkan unsur-unsur kehidupan Barat ke dalam Indonesia. Apakah itu dikerjakan dengan kesadaran? dan mengapa?” tanyakan.
Dinipun menyanggahi pendapat-pendapat itu demikian:
“Kenapa di otak para pembaca yang nyantel hanya PADA SEBUAH KAPAL? Apakah saya kerjakan dengan kesadaran? Tentu saja sadar. Dan saya tidak pernah merasa memasukkan unsur-unsur kehidupan Barat ke Indonesia. Kehidupan itu sendiri telah masuk di Indonesia, sedang saya tinggal mengambil sebagian darinya.” Balas Dini.
Tentang angkatan dan idola
Sebagian orang beranggapan, bahwa penulis-penulis wanita seperti La Rose, Titie Said, adalah seangkatan dengan Dini. Ada sebuah jalur yang memisahkan NH. Dini. Ia tidak seangkatan dengan penulis-penulis tersebut. Sebab ia merasa lebih depan menulis daripada mereka. Barangkali ini soal kemandirian paham.
Bagi Dini, nama-nama seperti Muchtar Lubis, Rendra, Pramudya, Sitor, dan Darmanto Jt adalah sederetan tokoh yang dirasa paling mapan dalam menghadirkan karya-karyanya. “Karya Muhtar Lubis sesungguhnya temanya selalu bagus, tapi dalam penyanyiannya sangat terpengaruh dengan gaya tulisan kewartawanan. Hal itulah yang membentuk suatu ciri yang khas. Juga Rendra, semua puisi-puisinya selalu saya sukai. Demikian pula ciri Darmanto Jt yang khas (dan Darmantopun hanya nyengir-nyengir sombong).
Novel Pramudya yang berjudul ‘Korupsi’ menurut saya tidak jelek diantara novel-novel yang lain.”
Tentang Sutardji dikatakan dengan mantap sekali; “Secara terang. Dengan tidak malu-malu saya katakan, bahwa saya tidak menyukai tulisan-tulisan itu. Ketidak sukaan saya terhadap Sutardji sama dengan ketidak sukaan saya terhadap sajak-puisinya Ibrahim Sattah,” pungkasnya.
Dan sastrawan-sastrawan itu saling memutar otak. Bagaimanakah mencari jawabnya sendiri, yang telanjur acara itu ditutup oleh moderator (Bambang Sadono S.Y.).
Demikianlah hasil dialoq penulis-penulis Semarang dengan NH. Dini. Pertemuan itu berlangsung atas kerjasama “Yayasan Keluarga Penulis Semarang,” “PWI”, dan surat kabar harian “Suara Merdeka” (HANDRIYO UTOMO)
Dokumentasi Karya dan Pengetahuan Maestro
Artikel ini merupakan bagian dari dokumentasi digital perjalanan, kegiatan, karya, dan jejak kebudayaan Timur Sinar Suprabana.
